Nurchaeti, salah satu pelaku UMKM binaan Pertamina. Foto: dok Pertamina.
Nurchaeti, salah satu pelaku UMKM binaan Pertamina. Foto: dok Pertamina.

Jurus Jitu Mengantar UMKM Mendunia

Ekonomi pertamina Wirausaha UMKM
Ade Hapsari Lestarini • 30 Oktober 2020 22:12
 

TKI beromzet miliaran

Lihat saja Nurchaeti, pemilik usaha N&N Internasional. Dia sudah menerapkan seluruh skema pembinaan UMKM dari Pertamina yang sudah mengantarnya memiliki omzet miliaran. Tapi jangan salah, perjuangan yang harus dilaluinya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
 
Saat menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Singapura, pada 2013, dia memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan membuka usaha laundry. Masih terseok di tiga bulan pertama menjalankan bisnisnya, Nurchaeti tak patah semangat. Dia terus bertahan hingga akhirnya mempunyai enam cabang.
 
Naluri bisnisnya makin menggebu-gebu. Dia pun mengikuti pelatihan bisnis kuliner dan mendapatkan ilmu terkait menentukan harga jual dan manajemen pemasaran. Otak bisnisnya langsung tergiur untuk membuka bisnis kuliner.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ternyata marjin jualan makanan besar juga ya," ujar wanita yang akrab disapa Nur ini.
 
Jurus Jitu Mengantar UMKM Mendunia
UMKM binaan Pertamina. Foto: dok Pertamina
 
Malang melintang mencoba bisnis kuliner namun gagal, Nur pun teringat almarhumah neneknya memiliki resep keripik pisang yang enak sekali. Melihat peluang bisnis itu, dirinya pun memanfaatkan resep turun temurun keluarganya.
 
Bermodal Rp100 ribu untuk membeli pisang tanduk dan bahan lain, bisnis Nur perlahan mulai moncer. Hingga puncaknya, di akhir 2015, Nur bertemu dengan seorang distributor keripik di Brunei Darussalam di sebuah pameran yang tertarik dengan produknya. Tak disangka, produk keripik pisang Nur booming di negeri tersebut.
 
Tidak hanya ke Brunei, empat bulan sekali dia rutin mengekspor produk keripiknya ke berbagai negara. Sekali pengiriman bisa mencapai satu kontainer keripik. Dengan harga Rp10 ribu per kilogram (kg), ia bisa meraup omzet Rp500 juta hingga Rp800 juta setiap pengiriman.
 
"Jika ada lebih dari satu negara tujuan dalam sekali pengiriman, omzet yang didapat bisa lebih dari Rp1 miliar," ungkapnya.
 
Dia pun juga mengirim satu kontainer ke Dubai dan Qatar. Selain Qatar, produknya kini sudah sampai ke beberapa negara Eropa seperti Prancis, Belgia, Jerman, dan Belanda. Di negara Eropa tersebut, produk kripik apel yang menjadi primadona. Sedangkan di Qatar, justru produk kerupuk jengkol yang menjadi idola.
 
(AHL)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif