Owner Minyak Kutus-kutus Servasius Bambang Pranoto. Foto: dok Kutus-kutus.
Owner Minyak Kutus-kutus Servasius Bambang Pranoto. Foto: dok Kutus-kutus.

Ini Strategi Produsen Minyak Kutus-kutus Bertahan di Tengah Pandemi

Ekonomi Wirausaha Dunia Usaha Produk Dalam Negeri UMKM pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 11 Januari 2021 21:50
Jakarta: Owner Minyak Kutus-kutus Servasius Bambang Pranoto tak gentar kala pandemi covid-19 menyerang bisnisnya. Meskipun ia mengakui pagebluk tersebut membuat omzet penjualannya merosot hingga 50 persen.
 
"Ini sekarang dalam masa pandemi wajahnya kusam, disuruh lockdown, disuruh ini, sehingga akhirnya semangat kita untuk melakukan sesuatu agak sedikit padam. Tapi kami di Kutus-kutus tetap full speed, tetap bekerja seperti biasa, bahkan produksi kita tidak berubah di 2020 kemarin walaupun penjualan kami menurun. Cuma kami punya cara lain," ujar Bambang mengawali cerita bisnisnya dalam webinar BCA Mendukung Gernas BBI 2021, Senin, 11 Januari 2021.
 
Meski penjualan produknya mengalami penurunan, Bambang tak lantas mengurangi produksi. Justru dia menggenjot produksinya supaya tak mengurangi sumber daya. Produk yang tak terjual dijadikannya sebagai tabungan (stok). "Karena saya percaya, dengan menabung kita pasti pasti untung," tegasnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Stok inilah yang membuat Bambang tak mengutak-atik harga produk-produknya sejak perusahaannya berdiri pada 2013. Ia pun kemudian membeberkan strategi yang membuat Minyak Kutus-kutus mampu bertahan di tengah pandemi dengan harga yang masih sama seperti pertama kali diluncurkan.
 
Strategi pertama menciptakan produk yang luar biasa (excellent product). Ia berkaca pada produk-produk yang kini sudah mendunia seperti Apple, Coca-cola, hingga Windows. Menurutnya, produk-produk tersebut bisa mendunia lantaran dirancang dengan detail dan sesuai kebutuhan pasar.
 
Begitu pula dengan Minyak Kutus-kutus. Saat pertama kali Bambang menciptakan Minyak Kutus-kutus sebagai obat alternatif penyakit lumpuhnya pada waktu itu, ia tak langsung memasarkan produknya. Meskipun secara khasiat, obat itu mampu menyembuhkan penyakitnya.
 
"Setelah produk Kutus-kutus menyembuhkan saya, saya perlu eksperimen lagi selama dua tahun untuk bisa keluar di market agar betul-betul excellent. Saya membuat produk Kutus-kutus menjadi produk yang bermutu dan artisan. Jadi produk yang berbau artisan inilah yang menurut saya produk yang kualitasnya bagus dan akan bertahan lama," ungkap Bambang.
 
Jadi intinya adalah dengan menciptakan produk yang mempunyai kualitas tinggi, dengan demikian produk tersebut akan bertahan meskipun dihantam krisis sekalipun. "Untuk itu kepada teman-teman UMKM, tolong sekarang lihat ke produk terlebih dahulu," tuturnya.
 
Strategi kedua, pengaturan keuangan. Terkait hal ini, Bambang kembali mengingatkan kepada para pelaku UMKM agar menggunakan kredit atau pinjaman dari lembaga jasa keuangan secara efisien. Sebab jika tidak, utang tersebut malah akan menjadi beban dan akhirnya membunuh usaha itu sendiri.
 
Soal pemanfaatan pinjaman, Bambang menciptakan teori tiga bantal, yakni untuk biaya operasional, biaya produksi, dan sisanya ditabung. Ia terus melakukan langkah tersebut hingga tabungannya membesar. Tabungannya pun ditempatkan di perbankan, tujuannya agar bisa dijadikan agunan saat perusahaannya memerlukan pinjaman.
 
"Biarkan tabungan membesar pada titik tertentu, terus datang ke bank untuk utang dengan jaminan bukan pada agunan seperti properti dan lain-lain, tetapi utang tersebut jaminannya adalah tabungan kita. Mungkin 20 persen sampai 50 persen (tabungan) itu kita minta sebagai jaminan utang," jelas dia.
 
Selain itu, ia menekankan, pelaku UMKM juga harus disiplin terhadap pinjaman. Bila perlu, lunasi pinjaman tersebut sebelum jatuh tempo. Hal ini perlu dilakukan apabila usaha tersebut membutuhkan modal kembali, maka perusahaan itu bisa mengambil pinjaman baru.
 
"Jadi pengaturan keuangan itu sangat penting, kita harus tabung, karena kita tidak tahu akan terjadi apa pada dunia ini. Dengan menabung, safety. Seperti sekarang, kalau kita tidak punya tabungan dan kita hanya punya utang, sangat berbahaya," pesan Bambang.
 
Strategi ketiga, pemanfaatan media sosial. Bambang mengaku telah memanfaatkan media sosial sebagai salah satu cara teknik pemasarannya sejak produknya diluncurkan pada 2013. Selain tak memerlukan biaya, pemanfaatan media sosial juga bisa memberikan dampak yang besar terhadap produk yang dipasarkan.
 
"Impact-nya (pemanfaatan media sosial) itu akhirnya Minyak Kutus-kutus mulai dari satu orang hingga akhirnya sekarang kita punya reseller se-Indonesia itu sekitar 50 ribu reseller. Bahkan saya bisa mengklaim bahwa semua kota, kecamatan, di Indonesia ada reseller Minyak Kutus-kutus. Itu karena Facebook, dan kami tidak pernah sekalipun menggunakan media (marketing) konvensional. Kami tetap menggunakan Facebook karena gratis dan hasilnya luar biasa," pungkas Bambang.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif