Setoran Dividen Pertamina Tahun Depan Menciut

Suci Sedya Utami 05 Desember 2018 19:02 WIB
pertamina
Setoran Dividen Pertamina Tahun Depan Menciut
Deputi Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno (kiri). (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)
Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memastikan dividen atau setoran laba PT Pertamina (Persero) pada pemerintah tahun depan akan berkurang dibanding tahun sebelumnya.

Deputi Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan hal tersebut sesuai dengan laba bersih yang dibukukan oleh perusahaan. Tahun ini laba bersih Pertamina ditaksir lebih rendah dari tahun lalu. Bahkan labanya ditaksir tidak capai target awal sekitar Rp32 triliun.

"Dividen pasti turun sesuai dengan laba," kata Fajar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 5 Desember 2018.

Pada 2019, Pertamina ditargetkan menyetor dividen sebesar Rp3,4 triliun. Target ini diperkirakan tidak akan sampai. Padahal tahun ini perseroan menyetorkan dividen sebesar Rp8,57 triliun berdasarkan hasil perolehan laba sebesar USD2,41 miliar atau sekitar Rp32,25 triliun di 2017.

Fajar menjelaskan kenaikan harga minyak dunia beserta pergerakan kurs turut memengaruhi laba. Apalagi Pertamina harus mengemban fungsi sebagai agen pembangunan yang memiliki penugasan untuk menjual BBM Premium dengan harga yang ditetapkan pemerintah.

Dalam kondisi seperti saat ini, lanjut Fajar, pemerintah memilih tidak menaikkan harga BBM. Kenaikan tersebut tentu memberikan pilihan apakah subsidinya dinaikkan atau perseroan tidak perlu untung.

Akibatnya maka laba perusahaan ikut tergerus hal ini tentu berdampak pada setoran dividen. Dari laporan unaudited yang dikeluarkan Kementerian BUMN Aloysius K diketahui bahwa laba Pertamina hingga September sebesar Rp5 triliun.

Jumlah ini merosot atau jauh dari tahun sebelumnya. Pada kuartal yang sama tahun lalu labanya mencapai Rp26,8 triliun. Serta hingga akhir tahun lalu Pertamina bisa mencatatkan laba hingga Rp32,25 triliun.

"Kan enggak mau BBM dinaikkan akibatnya subsidinya harus dinaikkan. Tapi kalau pemerintah enggak punya uang bagaimana? Berarti bagian laba pemerintah. Artinya dividen yang diberikan ke pemerintah juga akan berkurang karena labanya kan berpengaruh ke dividen," jelas Fajar.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id