Ilustrasi (Foto: dokumentasi SKK Migas)
Ilustrasi (Foto: dokumentasi SKK Migas)

Proyek IDD Berkutat di Penambahan Bagi Hasil

Ekonomi migas skk migas
Desi Angriani • 09 Mei 2019 07:48
Jakarta: Satuan Kerja Khusus Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) menyebut operasional pengembangan proyek Ultra Laut Dalam Indonesia atau Indonesia Deepwater Development (IDD) masih berkutat pada penambahan bagi hasil (split) yang diminta oleh PT Chevron Pacific Indonesia.
 
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan Chevron mengajukan tambahan split lantaran pemerintah meminta percepatan produksi menjadi kuartal I-2024. "Tinggal masalah split memang. Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada kesepakatan," kata Dwi saat ditemui di Gedung SKK Migas, Jakarta, Rabu 8 Mei 2019.
 
Menurutnya negosiasi terkait penambahan split tidak gampang lantaran Chevron saat ini menggunakan skema kontrak cost recovery. Karena itu, butuh waktu untuk menimbang risiko saat perpanjangan kontrak beralih ke skema gross split.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Chevron melihat risiko adanya penundaan selama satu hingga satu setengah tahun. Risiko tersebut dilihat berdasarkan pengalaman Chevron dalam mengeksekusi proyek ini sebelumnya. Namun demikian, ia enggan membeberkan tambahan split yang diajukan Chevron. Hanya saja penentuan besaran split ditargetkan rampung pada paruh kedua tahun ini.
 
"Karena risiko ada di operator, tentu jadi sangat alot karena mereka akan hitung risiko. Ini tahap finalisasi karena development cost-nya sudah bisa diterima. Mudah-mudahan ini segera selesai. Kita targetkan semester satu selesai," pungkas dia.
 
Adapun Chevron sudah mendapatkan persetujuan pengembangan proyek tersebut pada 2008. Dalam proposal pengembangan disebutkan nilai investasinya sekitar USD6,9 miliar-USD7 miliar. Namun, proposal itu direvisi karena harga minyak naik. Chevron kemudian mengajukan angka USD12 miliar pada 2013. Sayangnya proposal itu belum disetujui pemerintah.
 
Akhir 2015 Chevron kembali mengajukan revisi dengan nilai investasi USD9 miliar. Dalam menentukan investasi dengan asumsi ada insentif investment credit di atas 100 persen. Proposal itu pun kembali ditolak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
 
Sekitar Juni 2018, Chevron mengajukan proposal lagi. Namun, angka itu berubah dari yang dijanjikan sekitar USD6 miliar. Sementara, SKK migas mengestimasi biaya pengembangan proyek IDD hanya USD5 miliar.
 
Dari data SKK Migas, proyek IDD bisa berproduksi hingga 1.120 juta kaki kubik per hari atau Million Standard Cubic Feet per Day (MMscfd) gas dan minyak 40 ribu barel per hari barrel per hour (bph). Proyek ini sedianya akan beroperasi pada kuartal I-2024. Saat ini SKK Migas masih mengevaluasi revisi proposal yang diajukan Chevron terkait proyek tahun lalu.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif