Kewajiban Simpanan Dolar Dinilai tak Mampu Perkuat Rupiah
Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani.
Jakarta: Pemerintah mewajibkan eksportir untuk menaruh devisa hasil ekspor (DHE) dalam bentuk dolar Amerika Serikat (USD) di perbankan domestik. Namun kebijakan tersebut dinilai tidak efektif untuk memperkuat nilai tukar rupiah.

"Selama enggak ada pemaksaan kewajiban untuk menukarkan dolar ke rupiah itu enggak efektif," kata Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah kepada Medcom.id, Jakarta, Rabu, 19 September 2018.

Menurut Piter, bank tak akan bisa memanfaatkan simpanan dolar bila tidak ditukar ke rupiah terlebih dahulu. Terlebih adanya ketentuan nett open position yang mengatur bank untuk menggunakan atau menjual valuta asing yang ditempatkan di bank tersebut.

Dosen Perbanas Institute ini mengatakan jika dolar hanya disimpan di dalam bank maka tidak akan terjadi transaksi. "Kalau hanya bertransaksi untuk bank nasional, masuk dolarnya dan masih disimpan dalam bentuk dolar itu enggak jadi efektif memperkuat rupiah," jelas dia.

Baca juga: Langkah Pengusaha Dukung Pemerintah Perkuat Rupiah

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mewajibkan seluruh pelaku industri di sektor mineral dan batu bara (minerba) menggunakan rekening bank domestik dalam melakukan transaksi hasil ekspor. Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan seluruh hasil ekspor minerba ke dalam negeri serta memperkuat devisa negara.

Kebijakan tersebut mulai diterapkan sejak 5 September 2018 yang diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 1952 Tahun 2018 tentang Penggunaan Perbankan di Dalam Negeri atau Cabang Perbankan Indonesia di Luar Negeri untuk Penjualan Mineral dan Batu Bara ke Luar Negeri.



(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id