Energi terbarukan. ANT/Rosa Panggabean.
Energi terbarukan. ANT/Rosa Panggabean.

METI Nilai Berat untuk Capai Target Energi Baru Terbarukan pada 2025

Ekonomi energi terbarukan
Nia Deviyana • 11 Juli 2019 20:55
Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan Indonesia bisa memenuhi tercapainya bauran energi 23 persen dari Energi Baru Terbarukan (EBT) pada 2025. Namun, target tersebut dirasa sulit untuk diwujudkan.
 
"Sekarang 2019 masih delapan persen. Sisa enam tahun lagi untuk ke 2025. Saya rasa agak berat, kecuali ada upaya khusus dari pemerintah," ujar Ketua METI Surya Dharma di Gedung Direktorat Jenderal EBTKE, Jalan Pegangsaan Timur, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis, 11 Juli 2019.
 
Surya menuturkan ada beberapa kendala terkait penyediaan EBT, salah satunya terkait biaya. Dia bilang, untuk pengadaan EBT biayanya bisa lebih murah, atau justru lebih mahal.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Makanya kita perlu kaji terus, karena energi terbarukan ini jarang kita pakai sehingga alat-alatnya cenderung baru dan belum teruji. Dan bisa jadi lebih mahal," kata dia.
 
Selain itu, untuk mendukung EBT, Rancangan Undang-Undang terkait hal tersebut penting untuk segera dirampungkan karena akan memberikan kepastian hukum mengenai pengembangan sumber energi tersebut di Indonesia.
 
Adapun salah satu klausul mandatori yang dibahas dalam RUU EBT yakni mengatur pendanaan pembangkit EBT yang dapat bersumber dari green fund maupun pungutan ekspor, pajak karbon, maupun dana-dana dari luar lainnya. Pendanaan tersebut akan diatur oleh badan pengelola EBT.
 
Namun, Surya mengatakan RUU mengenai EBT terpaksa ditunda tahun ini. Pasalnya, struktur organisasi DPR sebagai pengesah RUU tersebut segera berakhir periode jabatannya.
 
"Tadinya kan diproyeksikan Oktober tahun ini selesai. Kalau tidak tahun ini berarti tahun depan," pungkasnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif