Pemerintah Kantongi Rp26 Triliun Tingkatkan Produksi Migas

Suci Sedya Utami 25 Oktober 2018 11:00 WIB
migas
Pemerintah Kantongi Rp26 Triliun Tingkatkan Produksi Migas
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (Foto: Kementerian ESDM)
Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan pemerintah telah mengantongi komitmen kerja pasti sebesar USD1,748 miliar atau setara dengan Rp25-26 triliun dalam rangka meningkatkan produksi migas. Hal ini diharapkan bisa mendukung terwujudnya kemandirian energi di Tanah Air.

Adapun komitmen kerja pasti merupakan dana yang harus diberikan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas pada negara. Komitmen kerja pasti nantinya digunakan KKKS untuk investasi mereka dalam kegiatan ekplorasi lapangan migas.

Komitmen kerja pasti kini menjadi persayaran yang mesti dipenuhi KKKS saat mereka tertarik untuk mengelola blok migas. Komitmen kerja menjadi terobosan pemerintah untuk mengurangi beban anggaran negara.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan blok terminasi yang akan berpindah atau dikerjakan oleh eksisting kontraktor akan diperkenalkan dengan program baru yang dinamakan dinamakan firm working commitment. Adapun dana yang sudah dikumpulkan dari program tersebut untuk kegiatan eksplorasi sejak April 2018 mencapai sebesar USD1,748 miliar.

"Atau sekitar Rp25-26 triliun dana yang tersedia sekarang untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi," ungkap Arcandra Tahar, seperti dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Kamis, 25 Oktober 2018

Dahulu, tambahnya, pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk kegiatan eksplorasi migas sebesar Rp60-70 miliar setahun. Anggaran ini tentu tidak mencukupi, sebab satu kegiatan eksplorasi migas untuk satu sumur mencapai Rp100 miliar, Rp200 miliar, bahkan bisa Rp 300 miliar.

"Kegiatan eksplorasi untuk satu lubang sumur di Indonesia diperkirakan menelan biaya sebesar USD10 juta hingga USD15 juta dan di offshore bisa sampai USD50 juta hingga USD60 juta per sumur. Coba bandingkan dengan dana kegaitan eksplorasi yang tersedia dari APBN kita yang hanya USD3-4 juta setahun," kata Arcandra

Sebagaimana diketahui, kebutuhan BBM nasional saat ini sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara produksi nasional hanya dapat memenuhi kurang dari 800 ribu barel per hari. Sehingga sisanya sekitar 600 ribu barel per hari harus impor .

"Selisih antara produksi migas nasional dengan kebutuhan akan terus membesar. Untuk itu salah satu program yang kita canangkan adalah melalui kegiatan eksplorasi dan langkah ini merupakan salah satu bagian dari rencana jangka panjang peningkatan produksi migas nasional," imbuh Arcandra.

Lebih jauh, langkah-langkah lain dilakukan untuk meningkatkan produksi migas nasional untuk jangka pendek dan menengah. Untuk recana jangka pendek yang dilakukan adalah Improved Oil Recovery (IOR) untuk menaikkan produksi dalam waktu satu, dua, atau tiga tahun.

"Untuk jangka menengah dengan menggunakan Enhanced Oil Recovery (EOR), apapun metode yang ada di Enhanced Oil Recovery please welcome," pungkas Arcandra.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id