PLN: Tarif Listrik <i>Rooftop</i> Solar RI Lebih Mahal
Direktur Utama PLN Sofyan Basyir. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Jakarta: PT PLN (Persero) merespons keberatan Perkumpulan Pengguna Surya Atap (PPLSA) dan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) terkait ketentuan perhitungan ekspor dan impor listrik dari sistem Pengguna Surya Atap (PLTS) Atap.

Pada Pasal 6 Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 49 Tahun 2018 tentang penggunaan sistem PLTS Atap oleh konsumen PLN diatur bahwa listrik dari surya atap yang masuk ke jaringan PLN (ekspor) hanya dihargai sebesar 65 persen dari tarif listrik PLN. Tarif tersebut yang disoroti asosiasi karena dianggap terlalu kecil.

Direktur Utama PLN Sofyan Basyir mengatakan harga tersebut sudah cukup tinggi. Sofyan bilang di negara lain tarif listrik yang dihasilkan oleh sistem rooftop solar atau surya panel atap dan dijual hanya dihargai separuh atau sepertiga tarif listrik yang berlaku.

"Coba lihat di negara lain, ada yang satu banding dua, ada yang satu banding tiga. Makanya itu dari sudut pandang kita lihat kondisi secara umum. Dalam arti begini, di Singapura, Malaysia, dan negara-negara berkembang coba lihat," kata Sofyan saat ditemui di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 27 November 2018.

Menurut mantan Direktur Utama BRI ini, peraturan anyar yang dibuat oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan telah mewakili semua pihak dan tidak perlu dipermasalahkan.

Sebelumnya AESI mengirimkan surat untuk Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian dan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM.

Surat tersebut terkait dengan Permen ESDM No. 49/2018. Salah satu ketentuan yang disoroti AESI adalah Pasal 6 dalam Permen ini. AESI meminta agar Permen ini disempurnakan. Masukan dari AESI ini didukung juga oleh PPLSA.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id