Pertamina Segera Angkat Pipa Putus di Balikpapan

Ade Hapsari Lestarini 16 April 2018 14:58 WIB
pertamina
Pertamina Segera Angkat Pipa Putus di Balikpapan
Kondisi terbaru di Teluk Balikpapan. (Foto: dokumentasi Pertamina)
Jakarta: PT Pertamina (Persero) dalam waktu dekat akan mengangkat pipa ke permukaan air, menyusul penyidikan putusnya pipa minyak mentah milik perseroan yang menghubungkan Terminal Lawe lawe dengan Kilang Balikapapan. Pengangkatan pipa yang putus diharapkan dapat memberi titik terang atas siapa yang harus bertanggung jawab atas patahnya pipa Pertamina tersebut.

Region Manager Communication & CSR Kalimantan Yudy Nugraha menjelaskan pihaknya mendukung sepenuhnya penyidikan ini. "Saat ini kami sedang menyiapkan tim penyelam untuk dapat melakukan potongan pipa di bawah pengawasan pihak Kepolisian," kata dia dalam siaran persnya, Senin, 16 April 2018.

Yudy menjelaskan bahwa pipa pengganti berjumlah sekitar 22 joint dengan panjang masing-masing 12 meter sudah disiapkan untuk mengganti pipa yang diangkat tersebut.

Seperti diketahui pipa minyak mentah ukuran 20 inchi terputus. Dugaan sementara, penyebab putusnya pipa tersebut disebabkan oleh kekuatan eksternal. Dengan diangkatnya potongan pipa yang putus tersebut, Pihak Kepolisian akan melakukan penyelidikan untuk menemukan penyebab putusnya pipa minyak mentah ini.

Pertamina mengklaim kondisi pipa sebelum putus sangat baik dan diinspeksi secara berkala. Terakhir kali visual inspection pada 10 Desember 2017 oleh diver untuk cek kondisi external pipa, cathodic protection, dan spot thickness. Inspeksi untuk sertifikasi terakhir dilakukan 25 Oktober 2016, sertifikat kelayakan penggunaan peralatan yang dikeluarkan oleh Dirjen Migas masih berlaku hingga 26 Oktober 2019. Sertifikasi dilakukan tiga tahun sekali sesuai SKPP Migas.

Pipa Pertamina yang putus memiliki ketebalan pipa 12,7 mm terbuat dari bahan pipa carbon steel pipe API 5L Grade X42. Kekuatan pipa terhadap tekanan diukur dari safe Maximum Allowable Operating Pressure (MAOP) 1.061,42 Psig. Sementara operating pressure yang terjadi pada pipa hanya mencapai 170,67 Psig.

Adapun tidak hanya menanggung rusaknya aset dan hilangnya minyak mentah, Pertamina juga harus menanggung biaya pemulihan lingkungan akibat kejadian tersebut. Hingga saat ini, polisi masih mengivestigasi siapa dan apa yang menjadi penyebab patahnya pipa.

"Semua yang berkaitan, kami periksa. Baik dari Pertamina atau dari pemilik dan awak kapal," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kaltim Kombes Yustan Alpiani.

Salah satu kecurigaan yang berkembang mengarah pada kapal Mt Ever Judger yang terbakar pada Sabtu, 31 Maret 2018 lalu. Satu-satunya benda yang terpikirkan bisa menggeser pipa adalah jangkar yang dilepaskan oleh kapal yang berlayar di atas lautnya.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id