Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. Medcom /Annisa Ayu Artanti.
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. Medcom /Annisa Ayu Artanti.

Pemerintah Susun 3 Skenario Neraca Gas RI 2018-2027

Ekonomi gas
Suci Sedya Utami • 01 Oktober 2018 19:55
Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyusun skenario neraca gas bumi Indonesia (NGI) untuk 2018-2027.
 
Neraca tersebut disusun dalam bentuk buku yang secara langsung diluncurkan oleh Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, Senin, 1 Oktober 2018. Dia bilang skenario tersebut sangat dibutuhkan oleh investor, badan usaha serta kementerian dan lembaga (K/L) sebagai pedoman data dan informasi mengenai gas bumi di Indonesia.
 
Arcandra mengatakan perubahan signifikan NGI 2018-2027 dengan NGI sebelumnya, yaitu pada metodologi proyeksi kebutuhan gas. Pada NGI sebelumnya, metodologi proyeksi kebutuhan gas digabung antara kebutuhan gas yang sudah kontrak dengan kebutuhan gas yang masih potensial. Sedangkan pada NGI 2018-2027, proyeksi kebutuhan gas dibagi menjadi tiga skenario utama.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dengan proyeksi pertumbuhan industri pada angka 1,1 persen dan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,5 persen yang digunakan sebagai acuan dalam proyeksi kebutuhan gas ke depan," kata Arcandra di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat.
 
Dengan memperhitungkan seluruh potensi pasokan gas bumi di dalam negeri dan memperhatikan tiga kebutuhan gas bumi ke depan maka skenario pasokan dan kebutuhan gas bumi dalam NGI 2018-2027 yakni:
 
Skenario I, NGI diproyeksikan mengalami surplus gas pada 2018-2027. Hal tersebut dikarenakan perhitungan proyeksi kebutuhan gas mengacu pada realisasi pemanfaatan gas bumi serta tidak diperpanjangnya kontrak-kontrak ekspor gas pipa/LNG untuk jangka panjang.
 
Skenario II, NGI diproyeksikan tetap surplus pada 2018-2024 dan akan defisit 2025-2027. Kondisi ini terjadi dengan asumsi proyeksi kebutuhan gas pada skenario II menggunakan asumsi pemanfaatan gas dari kontrak eksisting terealisasi 100 persen, pemanfaatan gas untuk sektor kelistrikan sesuai dengan RUPTL 2018-2027, asumsi pertumbuhan gas bumi sesuai dengan pertumbuhan ekonomi yaitu 5,5 persen untuk sektor Industri Retail, Pelaksanaan Refinery Development Master Plan (RDMP) sesuai jadwal, pelaksanaan pembangunan pabrik-pabrik baru petrokimia dan pupuk sesuai jadwal.
 
Skenario III, NGI diproyeksikan surplus dari 2019-2024 serta mengalami defisit di 2018 dan 2025-2027. Proyeksi kebutuhan gas pada skenario III menggunakan asumsi pemanfaatan gas dari kontrak eksisting terealisasi 100 persen, pemanfaatan gas untuk sektor kelistrikan sesuai dengan RUPTL 2018-2027, sektor industri Retail memanfaatkan gas pada maksimum kapasitas pabrik serta penambahan demand dari pertumbuhan ekonomi dengan asumsi 5,5 persen, Pelaksanaan RDMP sesuai jadwal, pelaksanaan pembangunan pabrik-pabrik baru petrokimia dan pupuk sesuai jadwal.
 
NGI merupakan gambaran pasokan dan kebutuhan gas bumi nasional jangka panjang yang mencakup berbagai skenario proyeksi yang mungkin akan terjadi di masa mendatang. Dengan demikian, sektor lain seperti industri, ketenagalistrikan dan kegiatan ekonomi lainnya mendapatkan gambaran pengembangan lebih jelas.
 
Hal ini pun dipandang positif oleh Executive Director Indonesia Petroleum Asosiation (IPA) Marjolijn Wajong yang menilai adanya neraca gas memberikan gambaran bagi pelaku usaha terutama untuk industri upstream.
 
"Bagus dong dengan skenario-skenario org diberi ruang untuk melihat kemungkinan-kemungkinannya. Kalau saya lihat ini positif membuka banyak ruang diskusi," tambah Marjolijn.
 

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif