Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif. (FOTO: Medcom.id)
Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif. (FOTO: Medcom.id)

Pertamina Bisa Hemat Rp2,3 Triliun dari BBM Ramah Lingkungan

Ekonomi pertamina
Ade Hapsari Lestarini • 27 Desember 2018 17:56
Jakarta: PT Pertamina (Persero) bisa menghemat hingga USD160 juta atau setara Rp2,3 triliun (kurs USD1 = Rp14.582 per USD) per tahun dalam mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan (green fuel).
 
Pertamina diketahui telah menguji coba sumber energi baru ramah lingkungan dengan menggunakan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).
 
"Pertamina bisa menghemat import crude sebesar 7,36 ribu barel per hari atau dalam setahun menghemat hingga USD160 juta," ujar Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif, dalam pemaparannya di hadapan media, di Jakarta, Kamis, 27 Desember 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, sejak awal Desember 2018, Refinery Unit (RU) III Plaju telah mampu mengolah CPO menjadi green gasoline (bahan bakar ramah lingkungan) dan green LPG dengan teknologi co-processing.
 
Teknologi ini menggabungkan sumber bahan bakar alami dengan sumber bahan bakar fosil untuk diproses di dalam kilang sehingga menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan.
 
Budi mengatakan upaya ini sangat mendukung pemerintah dalam mengurangi penggunaan devisa. Adapun hasil implementasi co-processing tersebut telah menghasilkan green gasoline octane 90 sebanyak 405 MB per bulan atau setara 64.500 kiloliter per bulan dan produksi green LPG sebanyak 11 ribu ton per bulan.
 
"Program pemerintah kan seperti itu, memakai tingkat komponen dalam negeri (TKDN), menekan crude impor. Kita pakai sawit dan yang jelas juga bisa meningkatkan ketahanan energi. Itu dilakukan dalam rangka program pemerintah," tambah dia.
 
Menurut Budi pengolahan CPO secara co-processing di kilang telah memberikan kontribusi positif bagi perusahaan dan negara. Inovasi anak bangsa ini telah diuji coba dan memberikan hasil yang membanggakan baik dari kualitas produk, hasil yang ramah lingkungan serta berpotensi mengurangi impor minyak mentah.
 
"CPO yang diambil bersumber dari dalam negeri, transaksi yang dilakukan dengan rupiah sehingga mengurangi defisit anggaran negara, serta hasil bahan bakar ramah lingkungan," jelas Budi.
 
Ke depan, langkah ini akan diikuti di kilang lainnya yakni di RU Cilacap, Balongan dan Dumai serta akan diperluas untuk jenis bahan bakar lainnya, baik green diesel (bahan bakar solar) maupun green avtur. Pertamina bahkan sudah melakukan riset untuk menciptakan katalis buatan dalam negeri yang dapat digunakan untuk proses tersebut.
 

 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi