Illustrasi. Dok : AFP.
Illustrasi. Dok : AFP.

Produksi Turun, Indonesia Butuh Dana Abadi Migas

Ekonomi migas
Suci Sedya Utami • 22 Maret 2019 06:28
Jakarta: Indonesia membutuhkan dana abadi untuk mendorong kegiatan di sektor hulu migas. Dana abadi diperlukan untuk meningkatkan kegiatan ekplorasi di tengah penurunan produksi migas nasional.
 
Anggota Komisi VII DPR Tjatur Sapto Edy mengatakan penurunan produksi migas tanah air disebabkan karena tidak ada penemuan cadangan baru dalam skala besar. Tjatur memandang hal tersebut disebabkan oleh kelemahan data migas.
 
Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) terbatas. Untuk sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM), alokasi APBN lebih banyak digunakan untuk program pembangunan jaringan gas (jargas), lalu konversi minyak tanah ke LPG.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sehingga anggaran untuk pengadaan data wilayah kerja atau blok migas itu sangat kecil," kata Tjatur dalam diskusi bertajuk tantangan dan opsi solusi revitalisasi sektor migas Indonesia, di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Maret 2019.
 
Dia bilang seharusnya anggaran penerimaan dari sektor migas yang diterima negara bisa kembali lagi minimal 50 persen untuk menemukan cadangan baru melalui kegiatan eksplorasi. Namun sayangnya penerimaan tersebut digunakan untuk kebutuhan dan program lainnya.
 
Oleh karena itu, pembentukan dana abadi diperlukan dan bersifat mendesak. Politikus PAN ini mengatakan dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) migas tahun ini yang ditargetkan Rp168,62 triliun, maka lima persennya nanti bisa disisihkan dan digunakan untuk menemukan cadangan migas di masa mendatang.
 
"Diharapkan dana abadi migas dipakai untuk memperkuat data migas, untuk cari data-data baru cadangan migas," tutur dia.
 
Tjatur mengatakan parlemen mengusulkan dana abadi menjadi salah satu poin yang akan dibahas dalam revisi UU Migas.
 
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya pun mendorong pembentukan dana abadi. Apalagi dalam 12 tahun dan 30 tahun mendatang Indonesia akan kehabisan minyak dan gas.
 
Peneliti Indef Imaduddin Abdullah menambahkan negara lain seperti Norwegia, Kanada, UEA dan Timor-Timor sudah sangat maju dana abadinya.
 
Imaduddin mengatakan berkaca dari negara lain, dana abadi tersebut bersumber dari kegiatan ekspor yang sebagian hasilnya disisihkan, lalu kegiatan produksi yang jika ada peningkatan maka pajaknya bisa diperbesar dan disishkan.
 
"Bisa jadi diskusi model seperri ini, setiap persen yang dihasilkan dari ekspor untuk dana abadi jadi sovereign wealth fund. Ini penting karena tidak hanya jadi dana segar untuk tingkatkan produksi, tapi juga stabilisator penerimaan negara di masa datang," jelas Imaduddin.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif