Menteri ESDM Ignasius Jonan saat meninjau pos pengamatan Gunung Agung. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Menteri ESDM Ignasius Jonan saat meninjau pos pengamatan Gunung Agung. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Mirip Sarang Burung, Jonan Renovasi Pos Pengamatan Gunung Agung

Ekonomi gunung berapi kementerian esdm
Desi Angriani • 26 Desember 2018 12:56
Karangasem: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meresmikan pos vulkanologi dan mitigasi Gunung Agung, di Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali. Bangunan baru ini merupakan hasil dari renovasi besar-besaran pos pengamatan Gunung Agung yang lama.

Jonan mengatakan pos pengamatan Gunung Agung tersebut dibangun tanpa menggunakan tambahan anggaran. Dengan kata lain, Kementerian ESDM memanfaatkan anggaran yang sudah ada untuk melakukan renovasi terhadap sejumlah pos pengamatan gunung berapi.

"Saya minta semua pos pengamatan direnovasi atau di-make up. Kalau mau dibangun baru standarnya kayak begini, walau enggak pakai tambahan anggaran," kata Jonan saat peresmian pos pengamatan Gunung Agung, di Karangasem, Bali, Rabu, 26 Desember 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Menurutnya, selama ini pos-pos pengamatan gunung berapi tampak seperti sarang burung. Bangunannya disebut kurang layak bagi para pengamat yang sehari-hari menghabiskan waktu melakukan pemantauan dan pengamatan. Dengan bangunan dan peralatan yang layak, Jonan yakin para pengamat gunung berapi dapat bekerja maksimal untuk mengabarkan info terkini mengenai perkembangan gunung berapi di seluruh wilayah Indonesia.

"Semua pos rapi bersih dan tertib, kalau tidak tertib nanti hasilnya juga tidak tertib," imbuh dia.



Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar menambahkan sedikitnya ada lima pos pengamatan gunung berapi yang sedang direnovasi dan satu pos dibangun baru.

Pos-pos yang direnovasi merupakan bangunan yang kurang layak bagi para pengamat gunung berapi. Mereka bekerja dan beristirahat di tempat yang sama sehingga ruangan tersebut menjadi kotor.

"Ada yang ditingkatkan baik uang kerja maupun tempat mereka bekerja 24 jam layak sebagaimana mestinya kita tahu peran pengamat ini besar terhadap erupsi gunung api," ujar Rudy.

Saat ini tercatat 220 pengamat yang memantau seluruh aktivitas gunung berapi di pos-pos pemantauan dari Sabang hingga Merauke. Setiap pos sedikitnya diisi oleh tiga pengamat dengan maksimal berjumlah lima orang. Untuk pos pengamatan Gunung Agung sendiri diisi oleh lima pengamat dan tiga pengamat untuk pos pengamatan di Gunung Batur.

"Per pos minimal tiga orang, di Bali ada lima orang, sebelum renovasi ini hampir sama dengan beberapa pos mereka bekerja 24 jam," pungkasnya.


(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi