Gedung Pertamina (Wikimedia Commons NaidNdeso)
Gedung Pertamina (Wikimedia Commons NaidNdeso)

Pertamina Yakin Bisa Tahan Laju Penurunan Produksi Minyak

Ekonomi pertamina
Suci Sedya Utami • 22 Agustus 2019 07:45
Jakarta: PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina EP melakukan pengurasan minyak tahap lanjut atau Enhanced Oil Recovery (EOR) di delapan proyek. Delapan proyek tersebut meliputi kegiatan EOR di lapangan migas Tanjung, Sukowati, Rantau, Sago, Ramba, Jirak, Limau, dan Jatibarang.
 
Melalui proyek EOR, Pertamina optimistis dapat menahan laju penurunan produksi minyak alamiah. Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu menjelaskan, sejak April 2019, Pertamina telah membentuk Steering Committee EOR dan melibatkan diskusi dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan ahli-ahli eksternal.
 
"Pilot project EOR polymer di Lapangan Tanjung menunjukkan hasil positif. Sebagai kelanjutannya telah ditandatanganinya pokok-pokok kesepahaman antara Pertamina dan Repsol dalam pengelolaan EOR di Lapangan Tanjung untuk full scale-nya, termasuk implementasi EOR Surfactant-Polymer,” kata Dharmawan, dalam keterangan resmi, Kamis, 22 Agustus 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Proyek EOR yang dilaksanakan Pertamina antara lain meliputi implementasi EOR surfactant polymer dan CO2 flooding. Dirinya optimis strategi ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap upaya menahan laju decline rate atau penurunan produksi di lapangan-lapangan Pertamina.
 
"Untuk EOR di Tanjung, kami perkirakan dalam dua sampai tiga tahun ke depan produksinya bisa naik empat hingga lima kali lipat dari produksi saat ini," ujar dia.
 
Sedangkan Lapangan Jirak dan Rantau saat ini sedang dalam tahap implementasi full scale waterflood. "Bersamaan dengan hal tersebut dilakukan studi aplikasi chemical surfactant untuk implementasi EOR," tutur Dharmawan.
 
Terkait dengan CO2 flooding, Pertamina saat ini tengah melakukan studi di beberapa lapangan yaitu Jatibarang, Sukowati dan Ramba. Dharmawan bilang Lapangan Sukowati direncanakan akan menjadi lapangan aplikasi CCUS (Carbon Capture Utilization & Storage) pertama di Indonesia dengan memanfaatkan CO2 yang dihasilkan dari lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB).
 
"Implementasi EOR Pertamina memang dimulai di lapangan migas yang dikelola Pertamina EP, kini kami sudah mulai memperluas ke wilayah kerja Pertamina Hulu Energy (PHE)," ujar dia.
 
Di wilayah kerja PHE, Pertamina juga sedang melakukan studi di Lapangan Zulu dan E-Main di PHE Offshore North West Java (ONWJ0. Selain itu di Lapangan Batang yang dioperasikan oleh PHE Siak dalam waktu dekat akan dilakukan pilot project EOR Steam Flooding.
 
Implementasi EOR oleh Pertamina juga menjadi perhatian khusus utamanya dalam mengantisipasi alih kelola Blok Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia ke Pertamina di 2021.
 
"Pertamina telah melakukan preliminary portfolio (screening dan penetapan prioritas) untuk target lapangan-lapangan yang dapat dioptimasikan melalui kegiatan Primary, Secondary Recovery waterflood dan Tertiary Recovery Steamflood dan Chemical EOR) agar Produksi minyak dapat ditingkatkan saat alih kelola," papar Dharmawan.
 
Inisiatif untuk melakukan studi subsurface di beberapa lapangan akan dimulai tahun 2020 untuk mempercepat rencana pengembangannya dengan melakukan sinergi dengan institusi dan lembaga penelitian atau universitas dalam negeri. Hasil studi ini akan menjadi dasar rencana kerja Pertamina pada awal pengelolaan Blok Rokan.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif