Tenaga surya PLN. (FOTO: dok PLN)
Tenaga surya PLN. (FOTO: dok PLN)

PLN Olah Tenaga Surya untuk Naikkan Rasio Elektrifikasi Pulau Terpencil

Ekonomi listrik pln
Ade Hapsari Lestarini • 22 Juli 2019 13:53
Jakarta:PT PLN (Persero) tengah menyiapkan suplai listrik di sejumlah pulau terpencil. Listrik tersebut disediakan di Kabupaten Manggarai Barat, terdapat empat titik yang disiapkan yakni untuk Kecamatan Komodo yakni Desa Seraya Maranu (Pulau Seraya Besar), Desa Papagarang (Pulau Papagarang), Desa Pasir putih (Pulu Messa), dan Kecamatan Boleng, Desa Batu Tiga (Pulau Boleng).
 
Saat ini Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal 190 kWp sudah bisa dialirkan untuk 162 kepala keluarga (KK) di desa Seraya Maranu Pulau Seraya Besar. Sementara lainnya masih dalam proses pembangunan.
 
Suplai listrik di pulau-pulau tersebut menggunakan PLTS (sel fotovoltaik tenaga surya, inverter PV, inverter bidirectional, dan baterai) yang akan beroperasi 24 jam. Semua material nantinya akan diangkut dengan kapal melalui laut dari Jakarta-Labuan Bajo dan berlanjut ke Pulau Seraya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTT Ignatius Rendroyoko menyampaikan sumber pembangkit listrik ini menunjukkan PLN hadir melayani hingga pelosok negeri, sekaligus upaya percepatan program Peningkatan Rasio Elektrifikasi (RE), serta Peningkatan pembangunan pembangkit lisrik EBT (Energi Baru Terbarukan).
 
"Kehadiran PLTS komunal ini untuk mempercepat melayani listrik di desa yang belum berlistrik atau di kepulauan/terisolir dan nantinya meteran yang dipakai masyarakat adalah kWh Limiter yang bisa digunakan semua energi merata dipakai oleh masyarakat," ungkapnya, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, Senin, 22 Juli 2019.
 
Kepala Desa Seraya Maranu Sutirman menambahkan listrik PLN sangat berperan besar terutama di daerah 3T khususnya Desa seraya Marannu.
 
"Dengan adanya listrik PLN, ke depannya penerangan dan produk masyarakat Desa bisa bersaing secara nasional dan tidak menutup kemungkinan bisa go internasional. Saya yakin, ke depannya akan banyak UKM-UKM yang akan bermunculan dampak postif dari masuknya listrik ke desa kami, karena teknologi dalam bentuk apapun membutuhkan listrik," kata Maranu.
 
Dirinya melanjutkan, meski terpencil, masyarakat dan generasi penerus bisa siap bersaing sehingga bisa merdeka dari kemiskinan, merdeka dari gagap teknologi, dan bisa berbuat banyak untuk bangsa dan Negeri ini.
 
Sebelumnya, Desa Pasir putih (pulau Rinca) dan Desa Komodo (Pulau Komodo) sudah berhasil dinyalakan pada Januari 2017 lalu. Aparat desa kepulauan lainnya terlihat aktif untuk menjalin komunikasi terkait pelayanan listrik di desanya, mulai dari proses survey pembebasan tanah untuk lokasi pembanguann PLTS sampai listrik menyala.
 
Diketahui selama ini masyarakat harus beli (bahan bakar minyak) bbm 50 liter per bulan (Rp6.450 x 50 = Rp322.500) untuk menghidupkan genset selama sebulan yang hanya nyala pada pukul 18.00 sore sampai dengan 22.00 wita malam. Sedangkan dengan token listrik cukup Rp100 ribu per bulan dan menyala 24 jam, perbandingannya 1:3,2 lebih hemat dengan listrik PLN.
 
"Kerinduan akan listrik warga desa sangat besar, semoga dengan adanya PLTS ini warga bisa menyambung menjadi pelanggan PLN dan bisa memanfaatkan listrik secara bijak, sehingga bisa mendorong perekonomian setempat seperti potensi resort, dan usaha perikanan bisa awetkan ikan pakai freezer," pungkasnya.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif