Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Bakal Setop Impor Solar, RI Maksimalkan Pasokan Domestik

Ekonomi kementerian esdm Solar
Suci Sedya Utami • 10 Mei 2019 18:54
Jakarta: Mulai bulan depan, Indonesia akan berhenti untuk mengimpor produk bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar demi mengurangi tekanan pada defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).
 
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan akan memaksimalkan pasokan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan tanpa bantuan impor. Lagi pula, kata Arcandra untuk mengurangi impor BBM, Pertamina pun telah mengoptimalkan membeli minyak mentah (crude) dari hasil kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam negeri untuk kemudian diolah di kilang milik mereka.
 
"Kan kebijakan kita beli dari dalam negeri. Jadi sebisa mungkin solar yang diproduksi oleh Pertamina itu digunakan oleh industri dalam negeri," kata Arcandra di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat, 10 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, dia mengatakan dengan adanya kebijakan mandatory biodiesel atau pencampuran bahan bakar nabati berupa minyak kelapa sawit dengan kadar 20 persen diklaim mampu mengurangi impor minyak Solar.
 
"Dari B20 berkurang kebutuhan solar kita," jelas dia.
 
Menko Perekonomian Darmin Nasution sebelumnya mengatakan pemerintah berupaya menekan CAD dari defisit migas dengan memanfaatkan produksi minyak dari dalam negeri untuk mengurangi impor solar dan avtur.
 
"Kita mau pakai produk kita yang di dalam diolah di sini dan menurut Pertamina dan ESDM itu kita sudah tidak impor solar sama avtur bulan depan. Ya walaupun belum nol, tetapi arahnya akan nol," kata Darmin.
 
Dirinya menambahkan, meski dampaknya ekspor akan sedikit menurun, tetapi di sisi lain kebutuhan impor migas Indonesia juga akan turun. Hal ini diharapkan bisa memperbaiki tekanan CAD, agar tidak meningkat pada kuartal selanjutnya.
 
"Memang nanti di ekspornya sedikit menurun, kan tadinya diekspor lalu diolah di dalam. Tetapi akan menolong untuk transaksi berjalan di sampig upaya menjalani ekspor. Jadi oke (ekspor) memburuk sedikit kuartal I, tetapi harapannya kuartal berikutnya meningkat," jelas dia.
 
Defisit neraca transaksi berjalan lebih rendah dibandingkan dengan defisit kuartal sebelumnya yang mencapai USD9,2 miliar atau 3,6 persen dari produk domestik bruto (PDB). Namun secara tahunan mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan defisit pada kuartal I-2018 sebesar USD5,19 miliar atau 2,01 persen dari PDB.
 

(AHL)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif