Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Mayoritas Produksi Migas Nasional untuk Kebutuhan Domestik

Ekonomi migas pengelolaan gas bumi
Suci Sedya Utami • 20 Mei 2019 13:55
Jakarta: Demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, kebijakan pemanfaatan gas bumi diprioritaskan untuk dalam negeri. Sebaliknya, porsi gas untuk ekspor tentu akan menurun seiring naiknya pemanfaatan gas dalam negeri tersebut.
 
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat per April 2019, porsi pemanfaatan gas bumi untuk dalam negeri mencapai 64 persen. Sebaliknya ekspornya turun menjadi 36 persen. Pemanfaatan domestik tersebut secara rinci untuk industri sekitar 25 persen, pupuk 12,2 persen, kelistrikan 11 persen, LNG domestik 10,6 persen, lifting minyak 3,2 persen, LPG domestik 1,7 persen, bahan bakar gas 0,14 persen dan pipa gas kota 0,07 persen.
 
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan pertama kali porsi gas domestik lebih besar dari ekspor terjadi pada 2013 yakni sebesar 53 persen. Hingga saat ini porsi gas domestik tersebut terus meningkat dan bisa signifikan mencapai 64 persen. Data 10 tahun yang lalu atau 2009, porsi pemanfaatan gas domestik hanya 47 persen, bahkan 2003 hanya sebesar 25 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Memaksimalkan sumber energi domestik untuk pemanfaatan dalam negeri merupakan bagian dari meningkatkan kemandirian dan ketahanan energi nasional," kata Agung di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin, 20 Mei 2019.
 
Agung mengatakan tidak hanya gas yang diprioritaskan untuk pemanfaatan domestik, minyak mentah hasil produksi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang sebelumnya untuk ekspor, kini telah diserap maksimal oleh Pertamina. Pertamina menyebut, hingga pertengahan Mei 2019, sebesar 135 ribu barel per hari (bpd) minyak mentah para KKKS telah diserap. Perseroan menargetkan pada Juli mendatang, seluruh jatah KKKS yang seharusnya diekspor sebesar 225 ribu bpd dapat diambil sepenuhnya oleh Pertamina.
 
Sesuai Pasal enam Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional bahwa kemandirian energi dan ketahanan energi dicapai dengan mewujudkan sumber daya energi yang tidak dijadikan sebagai komoditas ekspor semata tetapi sebagai modal pembangunan nasional.
 
"Kalau mau mengurangi defisit neraca perdagangan migas, bisa saja gas dibiarkan diekspor terus. Tapi bukan itu kebijakan energi nasional kita. Gas itu bukan hanya sekadar komoditas ekspor, tetapi harus sebagai modal pembangunan, mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," tambah Agung.
 
Sebagaimana diketahui untuk pengurangan defisit neraca migas telah dilakukan kebijakan pencampuran biodesel sebesar 20 persen dalam solar atau dikenal dengan kebijakan B20. Kebijakan yang mulai diintensifkan sejak September 2018 tersebut kini telah menghemat devisa signifikan sekaligus mengurangi impor solar. Bahkan Mei 2019 ini, Pertamina bisa menyetop impor solar, karena kebijakan B20 telah berjalan dengan baik.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif