Jonan: Kendaraan Listrik Bukan Masa Depan, tapi Sekarang
Menteri ESDM Ignasius Jonan (Foto: Kementerian ESDM)
Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan kendaraan listrik di Tanah Air secepat mungkin. Kebijakan itu lantaran kendaraan listrik bukan untuk masa depan melainkan sekarang.

Jonan, dalam acara The 7th United Cities and Local Goverment (UCLG) Asia Pasific (Aspac) Congress, menegaskan bahwa pemerintah provinsi, pemerintah daerah, maupun kota, untuk berinisiatif membuat regulasi daerah tentang implementasi mobil listrik didaerahnya masing-masing.

"Pemerintah daerah harus mengambil inisiatif untuk membuat peraturan daerah dan kita (pemerintah pusat) akan dukung hal tersebut. Karena electric vehicle is not future, it is now," tegasnya, seperti dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Jumat, 14 September 2018.

Lebih lanjut, Jonan berharap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Surabaya bisa mempercepat pembuatan regulasi kendaraan listrik, sehingga bisa menjadi percontohan bagi pemerintah daerah lainnya.

"Karena khususnya untuk kota yang tingkat kepadatan lalu lintasnya sangat tinggi, seperti Jakarta dan Surabaya, implementasi regulasi kendaraan listrik harus sesegera mungkin untuk mengurangi emisi karbon," imbuhnya.

Jonan menjelaskan hadirnya kendaraan listrik sejalan dengan kebijakan ketahanan energi nasional. Karena jika terus mengulur waktu dalam implementasi kendaraan listrik, diperkirakan pada 2025-2030, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) akan menjadi 2 juta barel per hari, meningkat dari konsumsi sekarang sebesar 1,3 juta hingga 1,4 juta barel per hari.

"Padahal produksi minyak Indonesia itu kira-kira sekarang kurang sedikit dari 800 ribu barel per hari. Akhirnya impor BBM akan menjadi tinggi sekali," jelas Jonan.

Menurut Jonan jika kendaraan listrik diimplementasikan maka pemerintah tidak perlu mengimpor lagi untuk pemenuhan bahan bakar mobil listrik tersebut. "Kan listriknya bisa dari batu bara, itu tidak perlu impor, dari gas alam, tidak perlu impor juga, lalu dari geothermal, angin, air dan juga dari sampah," pungkasnya.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id