Freeeport Indonesia. Dok : MI.
Freeeport Indonesia. Dok : MI.

Produksi Ore Freeport Terjun Bebas di 2019

Ekonomi freeport
Suci Sedya Utami • 27 Februari 2019 16:47
Jakarta: PT Freeport Indonesia (PTFI) menyatakan produksi ore atau biji mineral mentah di tahun ini bakal mengalami penyusutan. Hal ini sejalan dengan masa penambangan di tambang terbuka Grasberg yang juga memasuki akhir hayat.
 
Direktur Utama PTFI Tony Wenas mengatakan produksi ore tahun ini ditargetkan sebesar 41 juta ton. Sementara di 2018, realisasi produksi ore PTFI mencapai 68 juta ton. Artinya ada penurunan sebesar 27 juta ton.
 
"2019 dengan berhentinya tambang terbuka kita berencana untuk memproduksi 41 juta ton ore," kata Toby dalam acara Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEl) Annual CEO Forum 2019 di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Rabu, 27 Februari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meskipun demikian, kata Tony, Freeport masih akan menambang di Stockpile di tambang terbuka. Di samping juga akan mulai menambang di tambang bawah tanah (underground mining) tahun ini. Kegiatan tambang bawah tanah akan berlanjut di masa-masa mendatang.
 
Tony mengatakan untuk target produksi tahun depan tidak akan terlalu jauh berbeda dengan tahun ini. Produksi diyakini akan meningkat di 2021 ke angka sekitar 60 juta ton.
 
"Tahun depan kurang lebih sama, dan di 2021 produksi akan meningkat lagi ke 60 juta ton per tahun dan 2022 kita akan kembali ke normal produksi," jelas Tony.
 
Selain memproduksi ore, tahun lalu Tony menyebutkan produksi tembaga Freeport mendekati 1,3 juta ton. Serta produksi emas Freeport mencapai 2,5 juta ons.
 
Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono memperkirakan pendapatan PT Freeport Indonesia pada 2019 akan mengalami penurunan.
 
Bambang menjelaskan penurunan tersebut karena Freeport Indonesia harus melakukan transisi kegiatan penambangan dari sebelumnya di Tambang Grasberg ke tambang bawah tanah. Peralihan tersebut membuat produksinya diperkirakan menurun dan berujung pada anjloknya pendapatan.
 
"Turun dibandingkan dari 2018 jadi Ebitda-nya atau revenue-nya turun karena (penghasilan) Tambang Grasberg mulai berkurang," kata Bambang awal tahun.
 
Bambang mengatakan menurut perkiraan PT Inalum sebagai pemilik saham mayoritas Freeport Indonesia, penurunan Ebitda dari USD4 miliar menjadi kurang lebih USD1 miliar.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif