WPFSD 2018 Fokus Bahas Energi Terbarukan
Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Nurhayati Ali Assegaf -- Foto: dok DPR RI
Jakarta: Forum World Parlementary Forum on Sustainable Development (WPFSD) ke-2 akan memberikan perhatian serius pada persoalan energi terbarukan. Diharapkan, forum yang diikuti oleh 45 negara itu menghasilkan resolusi guna mewujudkan pengembangan energi baru terbarukan.

Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Nurhayati Ali Assegaf menilai energi baru terbarukan dapat menghilangkan ketergantungan terhadap energi fosil. Pasalnya, ketergantungan terhadap energi fosil tidak menjamin perekonomian menjadi lebih stabil.

“Kesulitan bagi negara energing country seperti Indonesia ini semuanya bergantung pada harga minyak. Ekonomi global sangat bergantung pada harga minyak. Kita mulai bicarakan bagaimana sustainable energy,” kata Nurhayati saat dikutip dari dpr.go.id, Rabu 12 September 2018.

Politikus Demokrat itu mengungkapkan, saat ini parlemen dunia sudah mulai mendorong pemerintah agar kebijakan di bidang energi tidak bergantung pada fosil dan batubara. Pemerintah harus berinovasi dan beralih ke energi yang berkelanjutan.

Untuk mewujudkan kebijakan energi yang terbarukan, Nurhayati meminta eksekutif dan legislatif bekerjasama. Oleh sebab itu, kehadiran pemerintah sangat penting untuk mewujudkan komitmen pemanfaatan energi baru terbarukan.

Nantinya pemerintah akan diwakili oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

"Jadi ini memang sebetulnya, diplomasi parlemen diperuntukkan untuk kebijakan-kebijakan luar negeri pemerintah, yang berdampak pada kemaslahatan dalam negeri,” ujar dia.



(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id