PLN Belum Raih Laba Bersih hingga Akhir Tahun

Annisa ayu artanti 24 Oktober 2018 20:53 WIB
pln
PLN Belum Raih Laba Bersih hingga Akhir Tahun
Illustrasi. Dok:PLN.
Jakarta: PT PLN (Persero) masih optimistis keuangan perseroan masih tetap 'ciamik' meski belum bisa mencetak laba bersih hingga akhir tahun ini.

Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan laba bersih belum bisa terbentuk tahun ini. Namun laba operasional PLN akan tercapai.

"Kalau lihat operasionalnya Insyaallah baik. Tapi kalau pembukuan, pembukuan saya kan masih ada utang jatuh tempo 30 tahun," kata Sarwono saat ditemui di Komplek Parlementer, Senayan, Jakarta, Rabu, 24 Oktober 2018.

Sarwono menjelaskan tidak tercapainya laba bersih hingga akhir tahun karena terus dibayangi melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar Amerika yang terus memperlebar rugi kurs. Saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah di atas Rp15.000 per USD.

"Nilai kurs kan Rp15.200 per USD naik kan. Tapi kalau berubah lagi, ya pembukuan turun lagi. Jadi ini soal pembukuan saja," ucap dia.

Begitu juga dengan kuartal-III 2018, ia menambahkan, belum bisa mengantongi laba karena beban kurs terus meningkat. "Belum. Tapi dari sisi operasional kita untung. Tetapi pembukuan ada ruginya," imbuh dia.

Seperti diketahui, pada paruh pertama 2018 PLN mencatat kinerja keuangan yang kurang memuaskan pada paruh pertama 2018. Pasalnya perusahaan mencatat rugi sebesar Rp5,35 triliun pada semester I-2018.

PLN mencatat rugi tersebut yang disebabkan oleh membengkaknya beban usaha yang ditanggung perseroan. Beban usaha tercatat meningkat dari Rp130,25 triliun di semester I-2017 menjadi Rp142,42 triliun di semester I-2018.

Beban usaha tersebut terdiri dari beban bahan bakar pelumas yang mengalami kenaikan 16,73 persen dari Rp55,39 triliun periode yang sama tahun lalu menjadi Rp64,66 triliun, beban pembelian tenaga listrik naik 10,07 persen dari Rp34,35 triliun menjadi Rp37,81 triliun.

Lalu, beban untuk pemeliharan naik 20,07 persen dari Rp7,92 triliun menjadi Rp9,51 triliun, beban dari penyusutan naik 6,5 persen dari Rp14,18 triliun menjadi Rp15,11 triliun.

Perusahaan listrik pelat merah ini juga mencatat rugi kurs sebesar Rp11,57 triliun. Padahal di periode yang sama sebelumnya hanya mencatat Rp222,45 miliar.




(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id