Ilustrasi tambang Freeport. (FOTO: AFP)
Ilustrasi tambang Freeport. (FOTO: AFP)

Freeport Raih Perpanjangan Ekspor hingga Maret 2022

Ekonomi kementerian esdm freeport
Suci Sedya Utami • 11 Maret 2019 20:24
Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengeluarkan rekomendasi izin ekspor konsentrat bagi PT Freeport Indonesia.
 
Izin ekspor Freeport sebelumnya telah habis pada 15 Februari 2019. Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saifulhak mengatakan perpanjangan izin akan diberikan selama setahun hingga 8 Maret 2020.
 
"Sudah, sampai 8 Maret 2020," kata Yunus ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 11 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Yunus mengatakan pihaknya hanya memberikan rekomendasi semata. Setelah itu yang akan mengeluarkan izin yakni Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan. Namun dia memastikan pada prinsipnya pemerintah tidak akan menghambat ekspor Freeport.
 
Dia bilang dalam memberikan rekomendasi ada tiga persyaratan yang dikaji yakni jumlah cadangan, progres pembangunan dan kapasitas smelter yang direncanakan serta rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB).
 
"Progres smelter sudah di atas 90 persen dari target yang semula empat koma sekian, ini belum sampai, jadi 3,9 persen. Masih penyiapan lahan," tutur dia.
 
Selain Freeport, Kementerian ESDM juga telah mengeluarkan rekomendasi ekspor untuk PT Amman Nusa Mineral Nusa Tenggara serta PT Smelting.
 
Terkait volume ekspor untuk Freeport sebesar 198.282 wet ton. Sedangkan untuk Amman sebesar 336.100 wet ton.
 
Yunus sebelumnya pernah merinci produksi konsentrat Freeport tahun ini diperkirakan hanya 1,3 juta ton. Dari jumlah tersebut hanya 200 ribu ton akan diekspor dan sisanya 1,1 juta ton akan diolah di PT Smelting Gresik.
 
Jumlah produksi Freeport memang mengalami penurunan tahun ini dibandingkan tahun lalu mengingat adanya transisi dari tambang Grasberg ke tambang bawah tanah.
 
Yunus mengatakan tahun lalu realisasi produksi bijih tembaga mentah atau ore mencapai 270 ribu ton per hari dengan jumlah produksi konsentratnya mencapai 2,1 juta ton dalam setahun.
 
Sementara dari produksi konsentrat tersebut tahun lalu sebanyak 1,2 juta ton diperuntukan untuk ekspor sedangkan 800 ribu tonnya disalurkan ke PT Smelting Gresik.
 
"Untuk tahun ini berdasarkan RKAB (rencana kerja dan anggaran biaya) yang diajukan terjadi penurunan produksi," jelas Yunus.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif