Gedung Pertamina (Foto: Setkab)
Gedung Pertamina (Foto: Setkab)

Pertamina Wajib Laporkan Nilai Crude di Luar Negeri

Ekonomi pertamina
Suci Sedya Utami • 25 Mei 2019 06:03
Jakarta: PT Pertamina (Persero) diwajibkan untuk melaporkan nilai crude atau minyak mentah dari hasil investasi di luar negeri yang dibawa ke Indonesia dan selama ini tercatat sebagai impor dalam buku neraca perdagangan. Kewajiban ini mulai berlaku efektif pada semester II tahun ini.
 
Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan nantinya laporan tersebut akan diolah oleh Bank Indonesia (BI). Darmin mengatakan sebenarnya BI telah meminta laporan ini pada Pertamina sebelumnya, namun tidak kunjung diberikan dengan dalih Pertamina tidak paham mengenai apa yang mesti dilaporkan.
 
Nantinya laporan tersebut akan diolah dan masuk dalam neraca jasa. Selama ini besaran tersebut tidak masuk dalam neraca jasa. Tapi volume crude yang berasal dari ekplorasi Pertamina di luar negeri selalu dicatatkan sebagai impor dalam neraca perdagangan. Kondisi ini yang dianggap membuat perhitungan dalam neraca transaksi berjalan di sektor migas defisitnya besar.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Semester kedua BI meminta ke Pertamina supaya mereka buat laporan. Sebenarnya sekarang saja kita sudah minta setiap bulan buat disurati lagi. Sebelumnya BI merasa dia sudah minta minta, tapi enggak dikasih-kasih," kata Darmin, di Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat, 24 Mei 2019.
 
Namun, kata Darmin, nantinya yang dilaporkan bukan hanya crude yang dibawa pulang ke Indonesia. Dia bilang crude dari hasil eksplorasi di luar negeri yang mereka jual di luar juga dilaporkan. "Tetapi termasuk crude oil bagian Pertamina di luar yang enggak dibawa ke Indonesia, tapi dijual," jelas dia.
 
Lebih lanjut, dia menambahkan, pencatatan ini nantinya akan menekan defisit transaksi berjalan meskipun memang nilainya tidak terlalu signifikan. Namun untuk crude yang selama ini dibawa pulang ke Indonesia, nilainya kurang lebih USD450 juta. Sementara untuk hasil crude yang dijual ke negara lain, Darmin mengaku belum mendapatkan angkanya.
 
Dirut Pertamina Internasional EP Denie S Tampubolon mengatakan tahun lalu produksi minyak mentah dari hasil eksplorasi di luar negeri 102 barel per hari dan gas 299 juta kaki kubik per hari. Produksi tersebut berasal dari Aljazair, Malaysia Irak, Gabon dan Tanzania.
 
Namun yang dibawa ke dalam negeri hanya minyak dari Aljazair dan Malaysia. "Minyak yang kami bawa pulang ada dari Aljazair dan Malaysia, tahun lalu nilainya sekitar USD470 juta," tutur Denie. Sementara tahun ini produksi minyak dan gas Pertamina dari luar negeri ditargetkan sebesar 160 ribu barel setara minyak per hari.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif