Sektor Energi Terbarukan Minta tak Dianaktirikan

Suci Sedya Utami 21 November 2018 12:36 WIB
energi terbarukan
Sektor Energi Terbarukan Minta tak Dianaktirikan
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga surya. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Jakarta: Sektor energi baru terbarukan (EBT) merasa dianaktirikan. Hal tersebut membuat perkembangan EBT di Tanah Air masih sangat rendah.

Bahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan pun mengaku pesimistis dengan target penggunaan EBT 23 persen di 2025 bisa dicapai. Investasi di sektor EBT pun hingga semester I masih rendah dan diperkirakan tidak capai target hingga akhir tahun.

Ketua Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA) Yohanes Bambang Sumaryo mengatakan yang diinginkan asosiasi yakni kesetaraan. Dia bilang meski pemerintah telah mendorong pengembangan EBT namun tidak dipungkiri dalam kenyataannya fosil masih dijadikan primadona.

Hal tersebut tercermin dari Peraturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang pemanfaatan sumber energi terbarukan untuk penyediaan tenaga listrik. Dalam aturan tersebut ada ketentuan mengenai harga pembelian tenaga listrik tidak boleh melebihi 85 persen dari biaya pokok penyediaan (BPP) Pembangkitan PLN. Ketentuan tersebut dinilai membuat  harga jualnya rendah.

"Yang diinginkan oleh pelaku adalah kesetaraan. Saat ini regulasi kita kenyataannya masih meng-anakemas-kan fosil dengan berbagai subsidi, insentif dan lain sebagainya. Sementara EBT enggak boleh lebih dari 85 persen," kata Bambang di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Rabu, 21 November 2018.

Bambang mengatakan artinya harga pembelian EBT diatur hanya USD9 sen. Besaran ini dipandang sulit bagi asosiasi karena terlalu rendah. Padahal apabila menggunakan patokan harga USD15 sen pun per KWH dianggap sudah lebih hemat ketimbang harus membeli diesel seharga USD20 sen.

"Regulasi yang ada kurang begitu mendorong, harusnya kalau kita tahu itu lebih murah replace saja dari diesel. Berilah ruang gerak yang setara untuk EBT diterima ke sistem kelistrikan kita," jelas Bambang.

Menteri ESDM Ignasius Jonan sebelumnya tidak yakin target penggunaan energi baru terbarukan (EBT) bisa mencapai 23 persen di 2025. Pasalnya melihat perkembangan saat ini realisasinya masih rendah, hingga September tahun ini capaian penggunaan EBT baru 12,32 persen.

"Saya khawatir tidak bisa mencapai 23 persen kalau lihat perkembangannya," kata Jonan di Jakarta, Kamis, 15 November 2018.

Sementara itu Realisasi investasi di sektor Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) hingga kuartal III-2018 baru mencapai 40 persen.

Dirjen EBTKE Rida Mulyana mengatakan target investasi di sektor EBTKE tahun ini mencapai sebesar USD2,01 miliar. Artinya realisasinya baru sekitar USD800 juta.

"Kita baru mencapai hampir 40 persen (sektor EBTKE) dari target USD2 miliar lebih," kata Rida di Ditjen EBTKE, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 26 Oktober 2018.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id