<i>Windfall Profit</i> untuk Pertamina
Ilustrasi gedung Pertamina. (FOTO: ANTARA/Andika)
Jakarta: Pemerintah mendapat keuntungan atau windfall profit sebesar Rp300 miliar dari setiap kenaikan harga USD1 minyak mentah dunia. Keuntungan dadakan itu bisa dipergunakan untuk membantu keuangan PT Pertamina (Persero) yang mengalami tekanan akibat menanggung beban kenaikan biaya pengadaaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Djoko Siswanto saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi VII, di Jakarta, Rabu (23/5) mengatakan bahwa setiap terjadi kenaikan harga minyak dunia USD1, negara mendapat uang segar Rp2,9 triliun.

"Data dari BKF (Badan Kebijakan Fiskal), setiap USD1 kenaikan harga minyak itu penerimaan negara akan bertambah Rp2,8 triliun sampai Rp2,9 triliun, sedangkan (peningkatan) subsidi Rp2,5 triliun sampai Rp2,6 triliun. Jadi masih ada windfall profit sekitar Rp300 miliar," terang Direktur Djoko.

Namun saat ini, lanjutnya, pemerintah tidak langsung memasukkan keuntungan tersebut ke kas negara, tetapi akan digunakan untuk menyegarkan keuangan Pertamina.

Menurut dia, pemerintah sudah memiliki pengalaman naik-turun harga minyak dunia dengan harta paling tinggi menyentuh USD100 per barel dan beban subsidi Rp300 triliun. Dengan demikian, pemerintah akan lebih bijak menjaga stabilitas keuangan Pertamina serta ketersediaan BBM.

Selain itu, pemerintah membantu kondisi keuangan Pertamina dengan menyerahkan delapan blok migas terminasi kepada BUMN migas itu.

"Dengan begitu, Pertamina mendapat dana segar sebab tanpa investasi tetap produksi. Itu diharapkan membantu pertamina mengganti beban penugasan BBM," ujarnya.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bakal mencermati struktur biaya dan neraca keuangan Pertamina dan PLN menanggapi posisi harga minyak mentah yang semakin tinggi.

"Kami akan lihat struktur biaya mereka yang mengalami tekanan karena impor minyak sudah dengan harga tinggi, sedangkan harga yang disubsidi tidak mengalami perubahan," kata Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (22/5).

Produksi Meningkat

Sementara itu, PT Pertamina EP--kontraktor kontrak kerja sama di bawah koordinasi dan supervisi SKK Migas yang juga anak usaha persero--mencatatkan produksi sebesar 256.619 barrel oil equivalent per day (BOEPD) hingga 15 Mei 2018.

Capaian produksi tersebut melewati target dalam RKAP 2018 sebesar 249.601 BOEPD atau sekitar 101,61 persen.

Presiden Direktur PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf mengatakan realisasi produksi tersebut terdiri atas produksi minyak sebesar 76.309 barel oil per day (BOPD) atau 96,26 persen dari target sebesar 79.275 BOPD. Adapun, produksi gas mencapai 1.027,29 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

"Produksi gas hingga pertengahan Mei 2018 mencapai 104,10% dari target sebesar 986,82 MMSCFD," ujar Nanang.

Untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan produksi migas, Pertamina EP menyelesaikan program pengeboran dan work over (WO) serta melaksanakan program rencana kerja operasi sumur.

Selain itu, perusahaan juga melakukan rencana pemulihan (recovery plan) untuk mencapai target produksi.

Nanang menjelaskan, sepanjang Januari-Maret 2018, Pertamina EP membukukan pendapatan sebesar USD675 juta. "Pencapaian pendapatan ini, 115 persen dari realisasi pendapatan tahun sebelumnya USD586 juta (year-on-year)," ujarnya. (Media Indonesia)



(AHL)