PLN Peroleh Pinjaman Sindikasi USD1,62 Miliar
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Jakarta: PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (persero) meraih kepercayaan internasional dengan berhasil menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman sindikasi senilai USD1,62 miliar. Sebanyak 20 bank internasional telah bersedia mengucurkan pinjaman kepada PLN melebihi komitmen awal mereka USD1,5 miliar.

"Ini adalah fasilitas offshore sindikasi USD pertama kalinya untuk PLN dan merupakan tonggak sejarah baru bagi PLN sebagai bukti bahwa perusahaan memiliki diversifikasi sumber-sumber pendanaan yang beragam," kata Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto dalam keterangan resmi, Minggu, 4 November 2018.

Fasilitas pinjaman itu terdiri dari fasilitas pinjaman berjangka (Term Loan Facility) senilai USD1,32 miliar dengan tenor lima tahun dan Revolving Credit Facility senilai USD300 juta dengan tenor tiga tahun sehingga total fasilitas pinjaman menjadi USD1,62 miliar.

Fasilitas pinjaman ini mendapat lebih dari USD2 miliar komitmen, sehingga PLN berhasil mengeksekusi opsi green-shoe (tambahan atau upsize dari komitmen awal) dan meningkatkan jumlah fasilitas menjadi USD1,62 miliar.

Beberapa bank internasional yang terlibat dalam fasilitas ini adalah Australia and New Zealand Banking Group Limited (ANZ), Bank of China (Hong Kong) Limited (BOC), Citigroup Global Markets Singapore Pte Ltd (Citi), Mizuho Bank Ltd, Oversea-Chinese Banking Corporation Limited (OCBC), Sumitomo Mitsui Banking Corporation Singapore Branch (SMBC) atau PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI), dan United Overseas Bank Limited (UOB) sebagai Mandated Lead Arranger and Bookrunners (MLABs).

Menurut dia, proses sindikasi pinjaman ini sangat direspons dengan baik oleh pasar keuangan dengan harga yang sangat kompetitif di tengah situasi pasar sedang volatile seperti saat ini.

"Kami percaya ini adalah bukti kuat bahwa profil kredit PLN dan Indonesia yang sangat baik," paparnya.

Dana dari fasilitas kredit sindikasi ini akan digunakan untuk mendanai investasi PLN dan untuk tujuan korporasi secara umum (general corporate purposes) dalam kaitannya dengan menyukseskan proyek 35 ribu mw.

Sebagai perusahaan besar di Indonesia, PLN telah memiliki credit rating internasional yaitu Baa2 (Moody's), BBB (Fitch Ratings), dan BBB- (Standard & Poor's), di mana credit rating tersebut yang sama dengan credit rating Pemerintah Indonesia.

"Rating PLN yang sudah investment grade tersebut memberikan bukti bahwa PLN semakin dipercaya oleh pasar keuangan dalam mengelola kewajiban-kewajibannya," tandasnya.

Jaga Pasokan

Di sisi lain, PLN memastikan terus menjaga pasokan listrik yang andal guna menjaga kelangsungan industri, terutama di Kawasan Industri (KI), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan pelanggan-pelanggan besar lainnya.

"PLN terus menjaga pasokan listrik bagi industri, terlebih kini sudah memasuki era modern industri 4.0, agar dapat mendongkrak perekonomian nasional. Ini dilakukan dengan menjaga stabilitas tarif dan memberikan berbagai paket layanan menarik sesuai kebutuhan pelanggan," ujar Kepala Divisi Perencanaan Sistem PLN Adi Priyanto dalam seminar yang diselenggarakan Himpunan Kawasan Industri di Jakarta,pekan lalu. (Media Indonesia)



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id