Ilustrasi kendaraan listrik. (FOTO: MI/Ghani)
Ilustrasi kendaraan listrik. (FOTO: MI/Ghani)

Indonesia Berpotensi Jadi Pemain Lithium Dunia

Ekonomi motor listrik
Suci Sedya Utami • 01 Januari 2019 14:20
Jakarta: Memasuki tahun baru 2019, lndonesia akan segera mewujudkan impian untuk memiliki pabrik baterai lithium terbesar di dunia. Dalam beberapa hari mendatang penempatan batu pertama atau groundbreaking akan dilakukan.
 
Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) menilai potensi penggunaan baterai lithium sangat besar di dunia. Sehingga nantinya Indonesia akan mengeruk keuntungan yang signifikan apabila pabrik baterai lithium terbesar itu benar-benar dibangun.
 
Direktur Eksekutif CERI Yusri Usman mengatakan khususnya untuk di dalam negeri pembangunan baterai lithium diperlukan. Terutama, kata dia, sejalan dengan pengembangan dan penggunaan kendaraan listrik.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Potensi penggunaan lithium masih akan besar," kata Yusri pada Medcom.id, di Jakarta, Selasa, 1 Januari 2019.
 
Baterai lithium nantinya bisa digunakan sebagai daya pengisi kendaraan listrik. Yusri bilang berbagai fasilitas atau sarana pengisian daya juga perlu disiapkan sebelum memproduksi kendaraan tersebut secara massal.
 
Dia mengatakan infrastruktur pengisian dan bahan bakarnya perlu dipersiapkan dulu. Sebab ketika mobil listrik sudah diproduksi namun tidak dibarengi dengan infrastruktur dan bahan bakar pengisi daya maka malah akan menciptakan masalah tersendiri.
 
Sementara itu Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah tengah menghitung pasar dari produksi baterai lithium tersebut. Dia bilang hasil produksi baterai lithium itu tidak hanya digunakan untuk di dalam negeri. Namun untuk diekspor ke luar negeri. Lithium bisa digunakan untuk mengisi mobil listrik, motor listrik dan sebagainya.
 
"Sangat bisa diekspor, kan kita enggak gigit (gunakan hasil produksi) semua itu. Kita bisa jadi pemain global," kata Luhut.
 
Mantan Komandan Pasukan Khusus (Kopasus) ini mengatakan pembangunan pabrik baterai lithium akan dilakukan di Morowali. Morowali pilih karena memiliki produksi nikel yang melimpah. Sebab dia bilang 60-80 persen komponen baterai lithium berasal dari nikel. Di Morowali luas tambang nikel mencapai 200 ribu hektare dengan kualitas kadar nikel hingga 40 persen.
 
Pembangunan pabrik baterai lithium sekaligus sebagai upaya diversifikasi hasil produksi nikel dalam negeri yang nantinya tidak hanya dijadikan sebagai bahan baku stainless. Namun juga sebagai bahan baku untuk daya kendaraan listrik dalam rangka menuju energi terbarukan yang lebih besar.
 
"Jadi tidak lagi nikel jadi stainless steel, kita hitung berapa persen yang mau kita bikin stainless, berapa yang jadi lithium battery sebagai alternatif energi," jelas Luhut.
 
Luhut menyebutkan total nilai investasi pembangunan baterai lithium tersebut mencapai sekitar USD4,3 miliar di mana investasi awal sebesar USD700 juta.
 
?nvestasi awal senilai USD700 juta dilakukan oleh konsorsium GEM Co Ltd. Sebesar 36 persen, Tsingshan Group 21 persen, CATL 25 persen, Hanwa delapan persen, dan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) 10 persen.
 
Adapun investor yang akan menanamkan modalnya bukan hanya berasal dari Tiongkok. Beberapa negara lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan juga akan diajak untuk menanamkan modalnya di dalam negeri. Lebih jauh pembangunan pabrik ini diperkirakan akan memakan waktu selama dua tahun sejak groundbreaking dilakukan pada 11 Januari.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif