Alasan Kilang Minyak Lebih Banyak Ditemukan Asing
Ilustrasi (Foto: dokumentasi SKK Migas)
Ciloto: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan eksplorasi kilang minyak baru menjadi fokus di Indonesia pada 2016, dan itu pun belum menghasilkan penemuan yang besar. Kondisi tersebut yang menjadi alasan kenapa kilang minyak di Indonesia lebih banyak ditemukan perusahaan asing.

"Kita tidak eksplorasi, bagaimana mau menemukan. Kalau dicari di APBN, baik itu di zaman orde lama, orde baru, enggak ada anggaran untuk eksplorasi. Zaman reformasi ada, tapi kecil," jelas Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, dalam kunjungan kerja fasilitas Prototekno, di Ciloto, Jawa Barat, Kamis, 8 November 2018.

Ia tidak menampik eksplorasi kilang minyak baru menjadi fokus pada 2016. Namun, belum menghasilkan penemuan yang besar. Sedangkan terkait produksi (lifting) migas terus menurun, Amien menambahkan, hal tersebut tak lepas dari usia kilang minyak di Indonesia yang sudah menua, meski penggantian cost recovery justru meningkat.

"Lapangan migas di Indonesia sudah tua, yang usianya 20-25 tahun jumlahnya 40 persen, yang lebih dari 50 tahun jumlahnya 45 persen, dan 15-25 tahun 34 persen. Sedangkan yang masih produktif cuma 21 persen. Secara keseluruhan kira-kira ada 45 persen yang mature," paparnya.

Lebih lanjut, Amien mengatakan, mengevaluasi produksi minyak harus dilihat sepanjang industri ini ada karena lapangan migas tentunya terus mengalami perubahan. Evaluasi yang memadai menjadi penting agar produksi minyak bisa disesuaikan dengan kebutuhan industri di Tanah Air.

"Kondisi lapangan kilang minyak dari pertama dibangun dengan sekarang tentu berbeda. Kalau dulu kita bisa dapat produksi besar dengan biaya sedikit. Semakin ke sini, produksinya semakin menurun karena sudah tua. Jadi harus dilihat dari awal sampai akhir," tukasnya.

Hingga 31 Oktober 2018, produksi minyak bumi tercatat 776 ribu barel per hari, masih di bawah target APBN, yakni sebesar 800 ribu per hari. Di sisi lain, cost recovery hingga September 2018 mencapai USD8,73 miliar dari target APBN 2018 sebesar USD10,09 miliar.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id