Pemerintah Tolak Permintaan Pertamina soal Harga Minyak Khusus

Annisa ayu artanti 03 Mei 2018 16:27 WIB
pertamina
Pemerintah Tolak Permintaan Pertamina soal Harga Minyak Khusus
Pertamina. (ANT/Andika Wahyu).
Jakarta: Pemerintah menolak permintaan PT Pertamina (Persero) terkait harga minyak mentah khusus untuk jatah minyak pemerintah yang diolah di kilang dengan asumsi sesuai harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP).

Seperti diketahui permintaan harga khusus itu mencuat karena Pertamina yang menjual solar di bawah harga keekonomian yang membuat beban keuangannya membengkak.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto menjelaskan pemberian harga khusus minyak mentah sulit diimplementasikan karena perhitungannya yang cukup rumit.

Secara teknis minyak mentah yang masuk ke dalam kilang tidak hanya menghasilkan premium dan solar tetapi juga bisa menghasilkan avtur dan jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) lainnya.

"Jadi ribet menghitungnya perlu proses. Kita harus menghitung lagi, bikin formula lagi. Angkanya itu bisa tidak pasti. Berapa satu liter crude yang bisa jadi premium atau solar. Benar kan? Karena semua begitu masuk kilang ada yang bisa jadi minyak tanah, ada yang jadi ampas, ada aspal," kata Djoko di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 3 Mei 2018.

Menurut Djoko solusi untuk kompensasi penjualan solar di bawah harga keekonomian adalah dengan memberikan subsidi tambahan untuk solar. Anggaran penambahan subsidi itu diberikan dari windfall profit dari APBN.

"Kalau mekanisme subsidi itu clear," jelas Djoko.

Pemerintah mencatat ada windfall profit APBN dari perubahan harga minyak dunia. Dalam APBN pemerintah menetapkan harga ICP USD48 per barel sementara harga minyak dunia saat ini mencapai USD60 per barel.

"Uang itu kan ada windfall profit dari APBN ke ICP. ICP kan sekarang sudah USD67 per barel untuk April. Itu kan ada duitnya tuh. Duitnya itulah yang untuk penambahan subsidi berapa per liternya," imbuh dia.

Adapun, saat ini subsidi solar sebesar Rp500 per liter. Pemerintah akan menaikannya menjadi Rp1.000 sampai Rp1.500 per liter."Ya antara Rp500 sampai Rp1.000 lah," pungkas dia.

 



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id