Tokopedia sebagai salah satu unicorn asal Indonesia. Dok : Tokopedia.
Tokopedia sebagai salah satu unicorn asal Indonesia. Dok : Tokopedia.

Asia Tenggara Punya 12 Unicorn, 5 dari Indonesia

Ekonomi asia tenggara start up technology Unicorn
Husen Miftahudin • 24 November 2020 16:47
Jakarta: Partner and Leader dari Southeast Asia Private Equity Practice di Bain & Company Alessandro Cannarsi menyebutkan saat ini Asia Tenggara telah memiliki 12 unicorn, perusahaan rintisan yang memiliki nilai kapitalisasi lebih dari USD1 miliar.
 
Dari ke-12 unicorn tersebut, lima di antaranya merupakan perusahaan asal Indonesia. Kelima startup kelas kakap dari Tanah Air itu adalah Gojek, Traveloka, Tokopedia, Bukalapak, dan OVO.
 
"Asia Tenggara merupakan rumah bagi 12 perusahaan unicorn. Bigo, Bukalapak, Gojek, Grab, Lazada, Razer, OVO, Sea Group, Traveloka, Tokopedia, dan VNG. Pada 2020, kami meminta VNPay bergabung, sehingga total ada 12 unicorn," ujar Alessandro dalam pemaparan laporan e-Conomy SEA 2020 secara virtual, Selasa, 24 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jumlah itu membuat Indonesia masuk dalam 10 jajaran negara dengan startup unicorn terbanyak dunia. Tiongkok dan Amerika Serikat menjadi negara dengan startup kelas kakap terbanyak, keduanya memiliki lebih dari 200 perusahaan rintisan yang memiliki nilai kapitalisasi lebih dari USD1 miliar.
 
Adapun dalam laporan e-Conomy SEA 2020, investasi perusahaan unicorn Asia Tenggara hingga semester I-2020 sebesar USD6,3 miliar. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD7,7 miliar.
 
"Meski begitu, investasi perusahaan non-unicorn terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Ke depan, investor terus melakukannya dengan tetap optimistis, meskipun hati-hati," ungkap Alessandro.
 
Dalam laporan e-Conomy SEA, ekonomi digital Indonesia secara keseluruhan pada 2020 mencapai sebesar USD44 miliar atau setara Rp624,8 triliun (kurs Rp14.200 per USD). Sementara pada 2025, ekonomi digital Indonesia bisa mencapai USD124 miliar atau setara Rp1.760,8 triliun.
 
Laporan e-Conomy SEA yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company tersebut menandakan bahwa ekonomi digital Indonesia memiliki ketangguhan yang mumpuni. Dalam hal ini, sektor e-commerce dan media online menjadi penopang utama besarnya pertumbuhan ekonomi digital.
 
"Sementara sektor-sektor seperti perjalanan dan transportasi terhambat akibat adanya pandemi. Namun kedua sektor tersebut akan bangkit dalam jangka pendek hingga menengah," ungkap Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf pada kesempatan yang sama.
 
Randy menjelaskan, sektor e-commerce pada 2020 ini sebesar USD32 miliar atau naik 54 persen dari USD21 miliar pada 2019. Pertumbuhan momentum e-commerce di Indonesia juga tercermin dari peningkatan lima kali lipat jumlah supplier lokal yang mencoba berjualan online karena pandemi.
 
Adapun pada lima tahun ke depan, sektor e-commerce diperkirakan mampu tumbuh hingga 21 persen. Demikian dengan sektor transportasi online dan pengantaran makanan yang pada 2025 tumbuh hingga 28 persen.
 
Media online juga menunjukkan pertumbuhan positif pada 2020 ini dengan nilai sebesar USD4,4 miliar atau naik 24 persen dari USD3,5 miliar pada 2019. Sektor ini diperkirakan akan terus bertumbuh sebesar 18 persen menjadi USD10 miliar pada 2025.
 
Sementara itu, sektor perjalanan online turun 68 persen menjadi USD3 miliar pada 2020, dari USD10 miliar USD pada 2019. Meskipun demikian, sektor ini mengalami pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 36 persen dan mencapai USD15 miliar pada 2025.
 
"Pengantaran makanan dan transportasi juga turun 18 persen menjadi USD5 miliar, dari USD6 miliar pada 2019," pungkas Randy.
 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif