Pariwisata Indonesia. Foto : Medcom,
Pariwisata Indonesia. Foto : Medcom,

Ekonomi Digital Perkuat Kebangkitan Pariwisata Indonesia

Arif Wicaksono • 26 Januari 2022 17:41
Jakarta:  Dampak covid-19 memukul industri pariwisata dari hulu ke hilir. Tingginya kasus harian covid-19 juga membuat masyarakat harus membatasi aktivitas untuk keluar rumah. Mengutip Data Story 2019-2020, penurunan terbesar industri pariwisata dialami benua Asia sebesar 27 persen tepatnya dari 2019 sebesar USD225,9 miliar menjadi USD164,7 miliar pada 2020.
 
Menelisik lebih jauh imbas pandemi virus korona di industri pariwisata dalam negeri, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memprediksi pendapatan devisa dari sektor pariwisata turun hingga 50 persen akibat lesunya aktivitas kepariwisataan.
 
Kabar baiknya, meski menjadi sektor yang paling parah terimbas covid-19, industri pariwisata diharapkan menjadi salah satu sektor yang paling cepat rebound di masa pascapandemi. Dalam langkah pemulihan sektor ini, baik pemerintah maupun pelaku Parekraf harus dapat mengadopsi standar global kesehatan, harmonisasi dan digitalisasi. Upaya tersebut dilakukan  untuk mengurangi risiko penyebaran covid-19 di destinasi wisata.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan pemberlakuan aktivitas harian terutama sektor pariwisata di era new normal harus diimbangi dengan kesiapan masyarakat untuk hidup berdampingan dengan covid-19 dan kepatuhan dalam menjalankan protokol kesehatan, sehingga tercipta suatu tatanan kehidupan baru yang membangkitan sektor ekonomi, industri, pariwisata dan sektor-sektor penting lain.
 
"Untuk memulihkannya, selain fokus pada vaksinasi bagi pelaku dan tenaga kerja parekraf, Kementerian Parekraf juga merancang sejumlah persiapan bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk bisa  kembali bepergian. Salah satunya dengan penyediaan aplikasi digital untuk mendukung orang-orang beraktivitas di era new normal," ujar dia dalam sebuah webinar, Rabu, 26 Januari 2022.
 
Saat ini, beberapa destinasi dan usaha wisata sudah mulai buka seperti hotel, kafe, restoran, resor, wisata pantai, wisata hutan dan lain-lain dengan sederet protokol kesehatan yang berlaku. Kembali bepergian berarti kembali menghadapi kerumunan, interaksi antarmanusia, hingga akomodasi dan transportasi bersama.
 
Di era new normal, bepergian tidak lagi bisa sebebas dulu. Adaptasi kebiasaan baru dan kepatuhan masyarakat menjadi kunci agar risiko penyebaran rendah dan sektor pariwisata kembali bangkit.
 
Sejalan dengan upaya pemerintah dalam menggerakkan roda perekonomian dengan aktivitas terukur, masyarakat Indonesia sebagai pengguna smartphone urutan ke-empat terbesar di dunia, yakni sebesar 160,23 juta pengguna (menurut laporan Newzoo Data Pengguna Smartphone di Indonesia) diharapkan dapat mengoptimalisasikan penggunaan aplikasi yang terdapat di dalam smartphone miliknya sebelum bepergian ke suatu tempat, agar masyarakat dapat saling menciptakan rasa aman dan nyaman.
 
Sebagai salah satu pengguna smartphone terbesar di dunia, Indonesia juga merupakan pengguna aktif media sosial, yakni tiga jam 41 menit per hari (data pengguna medsos Indonesia), informasi tempat tempat baru maupun tempat wisata bahkan situasi jalan yang dilalui biasanya diunggah oleh pemilik akun. Namun, informasi-informasi yang diunggah oleh pengguna aktif media sosial tersebut cukup sporadis dan tidak terstruktur karena sifatnya individu,
 
CEO FAB Indonesia Fritz B.Tobing selaku inisiator aplikasi Tlusure mengatakan masyarakat berusaha beradaptasi ke new normal, namun kesulitan dalam  mencari sumber informasi yang dapat diandalkan di tengah informasi yang tidak terstruktur.
 
"Untuk dapat membantu masyarakat menjalankan kehidupan sehari-hari dengan aman di masa pandemi,  kami berinisiatif merealisasikan ide untuk membuat aplikasi yang dapat membantu masyarakat menjalankan aktivitasnya. Maka terciptalah aplikasi TLUSURE," kata dia.
 
Aplikasi Tlusurememberikan informasi tingkat keramaian dan penerapan protokol kesehatan di tempat yang ingin dituju. Rekomendasi yang diberikan aplikasi ini disesuaikan dengan kepribadian dan mood pengguna saat itu, sehingga tepat sasaran.
 
Melalui aplikasi ini, pengguna juga dapat membantu pengguna lainnya dengan memberikan live update dan review tertulis, serta menyarankan tempat dan aktivitas baru. Selain itu, pebisnis/pemilik wisata dapat berpartisipasi aktif dengan mendaftarkan dan memberikan update informasi tempat .  
 
"Aplikasi ini menciptakan multiplier effect dan pemerataan ekonomi di era new normal akibat pandemi yang terjadi sejak 2020 di Indonesia dan di seluruh dunia," kata Fritz.
 
Co-Founder dan CEO Tlusure Sandy Tantra mengatakan aplikasi ini sedang dalam proses sinergi dengan PeduliLindungi dari Kementerian Kesehatan. "Diharapkan konsep saling melindungi dengan update tracking terkini bisa meningkatkan kepercayaan wisatawan untuk mengeksplorasi berbagai destinasi wisata dengan aman dan nyaman," jelas Sandy.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif