UMKM. Foto : MI/Hendrik.
UMKM. Foto : MI/Hendrik.

Raih USD,6,3 Juta, Startup Singapura Siap Danai UMKM Indonesia

Ekonomi startup UMKM Singapura Fintech
Arif Wicaksono • 10 September 2021 11:27
Jakarta: Perusahaan fintech asal Singapura, Jenfi, meraih pendanaan Seri A sebesar USD6,3 juta atau setara Rp89 miliar yang dipimpin oleh Monk’s Hill Ventures. Investor lainnya termasuk Golden Equator Ventures and Korea Investment Partners (via the GEC-KIP Fund), 8VC, ICU Ventures and Taurus Ventures. Dana Series A ini akan digunakan untuk pengembangan produk, akuisisi konsumen dan ekspansi pasar di Asia Tenggara termasuk ke Indonesia.
 
Jenfi masih menanti berakhirnya moratorium pendaftaran fintech peer to peer lending baru yang diberlakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak Februari 2020 sebelum dapat mengajukan permohonan perizinan sebagai penyelenggara peer-to-peer lending di Indonesia.
 
Didirikan pada 2019 oleh Jeffrey Liu dan Justin Louie, Jenfi telah turut serta dalam program akselerasi oleh Y Combinator, perusahaan inkubator startup kelas dunia yang memiliki lebih dari 20 portofolio perusahaan teknologi dengan nilai valuasi setara atau lebih dari USD 1 miliar dari berbagai negara seperti Stripe, Airbnb, Cruise dan DoorDash.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Co-Founder dan CEO Jenfi, Jeffrey Liu (Jeff), menjelaskan perihal layanan pembiayaan Jenfi yang menyasar UKM (Usaha Kecil Menengah atau UKM) di Asia Tenggara khususnya UKM yang telah go digital dan karenanya terhubung dalam ekosistem digital dan menjalankan kegiatan usahanya secara digital dalam aktifitas pemasaran dan penjualan secara online.
 
Jeff memaparkan tiga hal utama yang membedakan pembiayaan UKM Jenfi dengan pinjaman UKM umumnya dari perusahaan fintech peer-to-peer lending lainnya di Indonesia.
 
“Pertama, pembiayaan UKM melalui platform Jenfi dikhususkan penggunaan dananya untuk membiayai kegiatan pemasaran seperti digital marketing dan pembiayaan inventaris guna mendukung kinerja penjualan setiap peminjam UKM. Sehingga harapan kami mereka tidak hanya dapat bertahan ditengah pandemi, namun juga dapat bertumbuh pesat. Kami menyebutnya sebagai Growth Financing," kata Jeffrey dalam keterangan resminya, Jumat, 10 September 2021.
 
Kedua, pinjaman akan dibayar dengan skema bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh dari penjualan bulanan UKM tersebut. Dengan kata lain, Jenfi akan mengambil sejumlah persentase kecil dari penjualan bulanan UKM peminjam secara bertahap sampai pinjaman berikut bunganya lunas sesuai rencana pembayaran yang disepakati dalam perjanjian.
 
"Di Asia Tenggara, tidak banyak perusahaan yang menyediakan solusi pembiayaan serupa,” jelas Jeff.
 
Ketiga, Jenfi memiliki nilai tambah berupa fitur analitis terotomasi yang dapat digunakan UKM untuk meningkatkan efisiensi penjualan online dan digital marketing mereka. Contohnya, fitur ini nantinya dapat memberitahu UKM peminjam mengenai kesempatan untuk mengiklankan produknya pada Google Ads yang berpotensi meningkatkan penjualan mereka, dan Jenfi akan menawarkan pinjaman bagi UKM tersebut yang dananya khusus digunakan untuk mengiklankan produknya.
 
Menurut data Bank Indonesia, sebanyak 87,5 persen UMKM terdampak pandemi covid-19. Dari jumlah ini, sekitar 93,2 persen di antaranya terdampak negatif di sisi penjualan dan akibatnya memberi tekanan pada pendapatan, laba dan arus kas.
 
Jenfi menyadari industri UKM di Indonesia sangat terdampak oleh resesi ekonomi saat ini, padahal potensinya sangat besar khususnya ketika didukung oleh strategi transformasi digital dalam aktifitas penjualan, pemasaran serta supply chain.
 
Hingga saat ini, Jenfi telah membantu pembiayaan lebih dari seratus UKM di Asia Tenggara yang meliputi model bisnis B2B dan layanan software di Singapura, Malaysia dan Vietnam, seperti antara lain, Tier One Entertainment, Pay With Split, and Homebase.
 
CEO Pay With Split, Dylan Tan, memberi testimoni tentang bagaimana Jenfi telah membantu perusahaannya bertumbuh:
 
“Sejak bekerjasama dengan Jenfi, kami melihat peningkatan rata-rata pertumbuhan GMV (Gross Merchandise Value) hingga hampir 50 persen. Dengan pendaftaran yang praktis, interface yang mudah digunakan dan tim yang responsif membuat seluruh proses menjadi mudah.” jelas dia.
 
Menurut Jeff model bisnis Jenfi telah sejalan dengan kearifan lokal, nilai sosial dan budaya di Indonesia yang dikenal dengan istilah Gotong Royong, yaitu “Bekerja Bersama dalam semangat solidaritas, kolaborasi dan empati yang sesuai dengan ideologi Pancasila khususnya pengamalan nilai sila ke-5, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 
Jeff meyakini, proses menuju ketahanan usaha dan kesejahteraan UKM di masa pandemi ini perlu dipikul bersama. Karena itu, Jenfi tidak ingin membebani UKM Indonesia dengan menerapkan skema pembayaran cicilan pinjaman yang berlaku pada umumnya yang jarang memperhatikan kinerja penjualan dan keadaan keuangan UKM.
 
“Cukup sering ditemukan, layanan fintech lending bagi UKM akan menagih cicilan pinjaman dari UKM tanpa mempedulikan keuntungan atau kerugian mereka, pokoknya harus dibayar sesuai jadwal. Jika tidak bisa, maka dikenakan denda atau bunga keterlambatan dan jalan satu-satunya jika tetap macet adalah restrukturisasi Dalam hal ini Jenfi menggunakan pendekatan yang berbeda, dengan rencana pelunasan pinjaman yang fleksibel dan turut mempertimbangkan kinerja penjualan, potensi pertumbuhan dan keuntungan UKM," ujar Jeff.

 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif