Foto: Grafis Medcom.id
Foto: Grafis Medcom.id

Tren Belanja Online Berlanjut

Ekonomi belanja online New Normal
Dero Iqbal Mahendra • 08 Juni 2020 07:30
Jakarta: Selama masa pandemi covid-19 tidak dapat dimungkiri lalu lintas data melalui internet meningkat secara drastis baik untuk belanja maupun sekadar surfing di internet. Momentum tersebut diprediksi akan terus berlanjut pada situasi new normal nanti.
 
Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyebutkan penggunaan internet meningkat hingga 40 persen. Selain itu, ada pergeseran dominasi akses internet dari kawasan perkantoran ke kawasan permukiman.
 
Temuan itu sejalan dengan hasil survei Mckinsey bahwa 34 persen masyarakat Indonesia makin sering belanja makanan secara daring, dan 30 persen lainnya mengaku makin sering belanja kebutuhan rumah via daring. Uniknya 72 persen-nya mengaku bakal tetap membeli kebutuhan sehari-hari melalui daring meski sesudah covid-19.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dengan adanya covid-19, pola belanja dan kehidupan berubah, termasuk perubahan mindset," kata Adjunct Researcher Centre for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Seno Hartono, dikutip dari Media Indonesia, Senin, 8 Juni 2020.
 
Perubahan mindset ini diikuti peningkatan sikap berbelanja sebagaimana penelitian Kantar yang menyebutkan 39 persen konsumen lebih memperhatikan harga produk, serta 30 persen-nya lebih memperhatikan lagi asal-usul produk.
 
Meski begitu, Tony mencatat kejahatan siber termasuk penipuan rekayasa sosial juga meningkat, terutama menyasar pembelanjaan barang medis dan kebutuhan sehari-hari. Ia menilai para oknum ini memanfaatkan momentum peningkatan belanja online lantaran pandemi dan kekagetan masyarakat.
 
Ia menilai masyarakat yang selama ini terbiasa berbelanja via offline ke online mengalami kekagetan dan rentan terhadap penipuan berbasis rekayasa sosial. Ada gap yang besar antara kemajuan teknologi dan tingkat literasi masyarakat.
 
"Masyarakat kita saat ini masih berada di tingkat dasar, yakni belum mengerti risiko saat memberlakukan fitur keamanan digital. Terlebih secara budaya, masyarakat Indonesia senang berbagi tanpa memverifikasi terlebih dahulu," jelas dia.
 
Untuk itu, menurut Tony, perlindungan data dan keamanan digital bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan juga seluruh pihak terkait, baik industri, pemerintah, maupun individu pemilik data.
 
"Ada tiga aspek yang harus diperhatikan agar lebih aman, yakni aspek psikologis, data, dan teknis. Psikologis di sini harus selalu waspada dan memverifikasi berbagai hal," tutur dia.
 
Edukasi Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Semuel Pangerapan membenarkan berdasarkan data Kemenkominfo ada peningkatan akses internet seiring menuju situasi new normal.
 
Penggunaan platform digital, kata dia, tak cuma mempermudah komunikasi masyarakat, tetapi juga membantu UMKM untuk terus mempertahankan usaha mereka dalam masa pandemi sehingga kepercayaan publik pada platform digital penting untuk dijaga dan ditingkatkan.
 
"Untuk itu, kami bekerja sama dengan berbagai pihak guna mengatasi isu keamanan platform digital. Masyarakat dapat mengecek hoaks lewat situs resmi Kemenkominfo. Kami juga terus mengimbau masyarakat untuk menjaga kerahasiaan data pribadi mereka," kata Semuel.
 
Anggota Komisi I DPR RI M Farhan menambahkan, edukasi kepada masyarakat tentang bertransaksi aman di platform digital perlu dilakukan seluruh stakeholders. "Kolaborasi pemerintah dan privat dalam edukasi ini perlu agar tidak ada oknum yang mengambil keuntungan di saat pandemi seperti ini," tutur Farhan.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif