Ilustrasi (Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti)
Ilustrasi (Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti)

Menyusuri Jungkir Balik IHSG di 2018

Ekonomi ihsg bei pasar modal
Annisa ayu artanti • 28 Desember 2018 10:31
Jakarta: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2018 tidak dipungkiri sering terkena imbas oleh berbagai banyak sentimen. Sentimen eksternal sangat mendominasi gerak IHSG tersebut.

Senior Analyst CSA Research Institute Reza Priyambada mencatat sentimen eksternal itu terutama berasal dari kebijakan-kebijakan Amerika Serikat (AS) yang memengaruhi seluruh bursa saham dan pasar keuangan global.

"Tak terkecuali IHSG yang turut terpengaruh sentimen global tersebut," kata Reza, di Jakarta, Jumat, 27 Desember 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Beberapa sentimen utama yang memengaruhi gerak IHSG di antaranya keputusan the Fed yang menaikkan suku bunga acuan, berbagai komentar dan cuitan Presiden AS Donald Trump dalam menanggapi pemerintahan maupun kondisi ekonomi AS, masih adanya potensi perang dagang antara AS dan Tiongkok, hingga kondisi di Uni Eropa. Sementara dari dalam negeri, Reza melanjutkan, kondisinya relatif masih terjaga atau dalam arti tidak terlalu buruk meski juga dibarengi dengan rilis negatif dari tercatatnya defisit neraca pembayaran dan perdagangan hingga melemahnya nilai tukar rupiah.



"Berbagai kondisi internal tersebut dapat dikatakan merupakan imbas dari global," ujar Reza.

Berikut pergerakan IHSG sepanjang 2018:

Januari 2018
-Pada 15 Januari terjadi insiden robohnya mezanin tower II Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Kejadian itu memakan 77 korban jiwa.

-Dalam satu bulan tercatat indeks ditutup menguat yaitu 6.60 dengan posisi tertinggi di level 6.680 dan terendah 6.605.

Februari 2018
-IHSG mencetak rekor tertinggi di level 6.689 pada 19 Februari. Namun pada penutupan akhir bulan posisi IHSG melemah 0,13 persen ke level 6.597.

Maret 2018
-Tercuat kabar perusahaan unicorn Go-Jek akan mencatatkan saham perdananya di bursa. Go-Jek memilih backdoor listing untuk melakukan aksi tersebut.

-Laju indeks bulan ini tergelincir cukup dalam yakni 6,19 persen jika dibandingkan dengan Februari. Tercatat pada penutupan perdagangan Maret IHSG merosot 408,231 poin ke level 6.188.

April 2018
-Gerak indeks terus tergelincir dibandingkan dengan posisi di Maret. IHSG menyentuh level terendah 5.909,198. Sementara saat penutupan perdagangan akhir bulan bertahan di level 5.994.

-Saat itu, Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan pelemahan indeks hanya sementara dan bukan berarti ada krisis ekonomi di Indonesia.



-Pelemahan indeks dikatakan Tito lantaran kondisi pasar diliputi ketidakpastian dari sisi global, terutama kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

-Selain itu, panjangnya libur Lebaran juga memberi imbas pada pergerakan indeks. Keputusan libur 10 hari membuat investor asing menarik dananya.

Mei 2018
-Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate sebanyak dua kali dalam sebulan menjadi 4,75 persen. Keputusan itu untuk memperkuat stabilitas nilai tukar terhadap perkiraan kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang lebih tinggi dan meningkatnya risiko di pasar keuangan global.

-Di Mei, indeks ditutup melemah 0,18 persen atau 11 poin ke level 5.983,587 dibandingkan penutupan di akhir April.

-Pelemahan terdalam di Mei terjadi pada 21 Mei yakni menyentuh 5.733. Vice President of Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan pelemahan IHSG dipengaruhi oleh faktor konsolidasi di tengah fluktuasi pada nilai tukar rupiah.

Juni 2018
-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan Inarno Djajadi (mantan komisaris BEI) sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia yang baru untuk periode 2018-2021 menggantikan Tito Sulistio.

-Indeks Juni ditutup melemah 3,08 persen atau 184,35 dibandingkan dengan bulan sebelumnya yakni berada di level 5.799. Sentimen positif seperti rilis inflasi Mei 0,21 dan keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuannya 50 basis poin menjadi 5,25 persen tidak menguatkan IHSG.

Juli 2018
-Indeks ditutup menguat 2,37 persen atau 137,206 poin ke level 5.936 dibandingkan dengan Juni. Namun tercatat ke level terlemah di level 5.633 pada 3 Juli 2018.

Agustus 2018
-Nilai tukar rupiah ambruk pada Senin,13 Agustus 2018 menjadi Rp14.600 per USD. Posisi ini mencatatkan rupiah terlemah sepanjang sejarah. Terpuruknya rupiah waktu itu dikarenakan ketidakpastian pasar keuangan global yang memcu penguatan dolar AS secara meluas.

-Namun demikian penutupan indeks pada 31 Agustus masih mencatatkan pergerakan positif dibandingkan dengan bulan sebelumnya yakni di level 6.018.



September 2018
-Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mengenakan tarif 10 persen untuk barang impor Tiongkok senilai USD200 miliar.

-Indeks masih bergerak stabil meskipun belum meninggalkan level 5.000. Tercatat, di September penutupan perdagangan di level 5.976. Posisi tersebut menjadi posisi tertinggi di September.

Oktober 2018
-International Monetary Fund (IMF) menilai perekonomian Indonesia merupakan sebuah kisah kesuksesan di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di dunia. Saat itu, Kepala Ekonom IMF Maurice Obstfeld menjelaskan kondisi perekonomian global tengah dirundung ketidakpastian akibat dari peningkatan tensi dagang antara AS dan Tiongkok, harga minyak, dan pengetatan keuangan global. Walaupun di tengah ketidakpastian tersebut, Indonesia dinilai mampu bertahan dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat.

-Meski demikian, tercatat selama Oktober 2018 IHSG kembali melemah 2,42 persen

November 2018
-BEI menerapkan Siklus Penyelesaian Bursa T+2 (T+2). Dengan siklus ini penyerahan efek oleh pihak penjual dan penyerahan dana oleh pihak pembeli dilakukan pada hari bursa kedua setelah terjadinya transaksi bursa.

-Pada bulan tersebut, gerak indeks akhirnya kembali menyentuh level 6.000. Level tertinggi terjadi pada 29 November yakni 6.107,168. Saat itu sentimen yang datang adalah pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell yang menyatakan bahwa suku bunga acuan The Fed saat ini sudah mendekati level normal. Hal itu memicu sentimen positif di pasar saham dan pasar finansial. IHSG dan kurs rupiah pada perdagangan 29 Desember pun melaju di zona hijau.

 


(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi