Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Saham Startup Diminati Pasar

Ekonomi startup
11 Maret 2019 08:21
Jakarta: Saham perusahaan startup yang ingin melantai di bursa dinilai akan diminati pasar. Syaratnya, selama ini kinerja startup tersebut dan potensi ke depan cukup bagus.
 
Hal itu disampaikan Alan T Darmawan selaku Chief Executive Offi cer Eastspring Investments Indonesia di Jakarta, belum lama ini.
 
"Salah satu produk kami, yakni Eastspring Syariah Islamic Asia Pacific USD memiliki saham sebesar 40-60 persen pada perusahaan teknologi yang mendanai startup," ujarnya di Jakarta, belum lama ini.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ini startup yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu Kioson, MCASH, dan NFC. Menurut Alan, secara umum, pasar akan bergejolak pada tahun ini karena memasuki masa pemilu serentak.
 
Namun, ia meyakini dengan strategi yang tepat, perubahan secara signifikan di pasar akan menjadi peluang yang baik bagi investor.
 
Dua produk reksa dana terbesar Eastspring Indonesia, yaitu Eastspring Investments Alpha Navigator dengan jumlah dana kelolaan atau asset under management (AUM) per 28 Desember 2018 sebesar Rp264,79 miliar dan Eastspring Investments Value Discovery dengan AUM Rp3,34 triliun.
 
Pada kelompok reksa dana syariah, termasuk reksa dana saham, Eastspring Syariah Islamic Asia Pacific USD yang memiliki AUM sebesar USD28,95 juta.
 
Perusahaan rintisan memang sedang didorong untuk mengakses dana dari pasar modal Indonesia. Salah satu gerbang besar untuk memperoleh dana dari pasar modal, yakni menjalankan proses penawaran umum perdana saham (IPO).
 
Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat mengaku pihak bursa bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menyiapkan aturan khusus yang dapat menaungi para startup.
 
"Kita akan bikin aturan itu, dijajaki di-review lisensi yang diberikan ke perusahaan ini dalam hal mereka manfaatkan dana publik," kata ‎Samsul, ditemui di Gedung BEI, SCBD Sudirman, Jakarta, Rabu, 17 Januari 2018 lalu.
 
Samsul mengaku perusahaan startup memang memiliki karakter yang berbeda dengan emiten di bursa.‎ Karena, startup memiliki risiko yang lebih besar bila dibanding perusahaan biasanya.‎

 
"Dengan teknologi maka bisnis model akan terus berkembang keberlangsungan perusahaan. Unicorn misalnya, sekarang tahan lifecycle setahun, lalu dua tahun, kalau hilang, investor yang dirugikan. Makanya mitigasi investor itu harus," jelas dia.
 
Lanjut dia, ketika investor akan IPO maka investor harus tahu berbagai risiko yang ada. Hal ini karena perusahaan startup bisa bangkrut kapan saja.‎ (Media Indonesia)
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif