Ilustrasi. (FOTO: MI/Panca Syurkani)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Panca Syurkani)

Awal 2019, Rupiah Berisiko Capai Rp14.800/USD

Ekonomi amerika serikat kurs rupiah
Eko Nordiansyah • 24 Desember 2018 13:37
Jakarta: Penutupan (shutdown) pemerintahan Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan berdampak pada ketidakpastian global. Akibatnya mata uang Negara Paman Sam tersebut akan menguat, sedangkan mata uang negara lain termasuk rupiah akan mengalami pelemahan.
 
"Rupiah berisiko kembali melemah pada awal 2019 di kisaran Rp14.650 sampai Rp14.800 per USD," kata Ekonom Institute for Development Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira kepada Medcom.id di Jakarta, Senin, 24 Desember 2018.
 
Dirinya menambahkan, dana asing di pasar keuangan akan mencari lokasi yang dianggap lebih aman (safe haven). Hal ini tentunya akan membuat aliran modal masuk (inflow) ke negara berkembang seperti Indonesia akan berkurang, sehingga membuat mata uangnya melemah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Di sisi sektor keuangan shutdown meningkatkan ketidakpastian bagi investor global sehingga mengalihkan dana dari pasar modal ke safe haven. Ini ditunjukkan oleh penguatan yen 1,36 persen dalam sepekan terakhir terhadap dolar AS. Aliran modal investasi yang masuk berkurang juga ke Indonesia," jelas dia.
 
Bhima berharap jika shutdown pemerintah AS berlanjut, maka tidak akan menganggu kinerja perdagangan dengan Indonesia. Apalagi layanan pemerintah di bawah kepemimpinan Donald Trump yang ditutup juga bukan yang berkaitan dengan ekonomi perdagangan.
 
Shutdown tersebut karena Partai Demokrat menolak permintaan Donald Trump yang meminta dana USD5 miliar sekitar Rp72,7 triliun untuk pembangunan tembok di perbatasan AS dan Meksiko yang menurut Trump dapat mencegah masuknya imigran ilegal serta obat-obatan berbahaya.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif