Ilustrasi (ANTARA FOTO/M N Kanwa)
Ilustrasi (ANTARA FOTO/M N Kanwa)

Analis Perkirakan Tren Penguatan Rupiah Berlanjut

Ekonomi rupiah menguat kurs rupiah
Dian Ihsan Siregar • 24 Januari 2017 11:04
medcom.id, Jakarta: Pelaku pasar atau investor masih menjauhi dolar Amerika Serikat (USD) seiring belum adanya kejelasan akan masa depan ekonomi Amerika Serikat (AS). Dengan kondisi seperti itu maka harapan tren penguatan rupiah terhadap USD masih akan terus berlanjut.
 
"Meski kami harapkan tren penguatan ini masih berlanjut pada rupiah, ‎tapi tetap cermati berbagai sentimen yang akan memengaruhi perubahan pada rupiah," kata Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Selasa (24/1/2017).
 
‎Dengan adanya proyeksi tersebut, Reza memperkirakan, nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran support Rp13.400 per USD, sedangkan resisten di posisi Rp13.315 per USD. Sedangkan pada perdagangan kemarin, melonjaknya JPY seiring pelemahan USD, karena respons pelaku pasar terhadap pidato pelantikan Presiden AS Donald Trump.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Ruang Penguatan Rupiah Diperkirakan Tersedia
 
Para pelaku pasar menilai pidato Trump belum memberikan sinyal yang tegas akan kebijakan fiskal AS di masa mendatang. "Ternyata memberikan imbas positif pada mata uang lainnya, termasuk rupiah yang bergerak menguat dan bangkit dari pelemahan sebelumnya," jelas Reza.
 
Sementara itu, Analis Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, ruang penguatan nilai tukar rupiah tersedia sekarang ini. Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah dibarengi oleh turunnya imbal Surat Utang Negara (SUN) hingga Senin sore walaupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih diwarnai oleh sentimen negatif.
 
Baca: Rupiah Pagi Bergerak Menguat ke Rp13.343/USD
 
"Ini mungkin berkaitan dengan prospek pertumbuhan yang mulai melambat akibat belanja pemerintah yang terhambat minimnya pendapatan serta dampak tularan dari kebijakan dagang AS terhadap Tiongkok, salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia," kata Rangga, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta.
 
Baca: Rupiah Menguat 41 Poin
 
Di sisi lain AS resmi menarik diri dari TPP dan USD semakin anjlok. Dolar index semakin anjlok di saat Trump meresmikan penarikan diri dari TPP. Mungkin ini pertanda bahwa Trump juga akan tidak menyukai USD yang terlalu kuat. Bahkan setelah Trump berjanji akan memangkas pajak untuk mendongkrak performa industri manufaktur, imbal hasil UST justru terpangkas.
 

 

(ABD)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif