Analis Perkirakan IHSG Berbalik Arah ke Zona Hijau
Ilustrasi (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berbalik arah menuju zona hijau setelah kemarin banyak bermain di zona negatif. Sejumlah sentimen positif seperti kenaikan suku bunga acuan oleh bank Indonesia (BI) diharapkan memperkuat gerak IHSG agar tidak terhempas ke zona merah.

‎"Pelemahan IHSG diharapkan hanya bersifat sementara karena lebih dipengaruhi imbas kondisi pasar global dan kekhawatiran sesaat," kata Analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada,‎ seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Kamis, 31 Mei 2018.

Menurutnya penguatan bisa terjadi sejalan dengan hadirnya sejumlah sentimen positif dari dalam negeri. Apalagi, sejumlah bursa saham global terlihat menguat dan bisa memberikan dukungan terhadap gerak IHSG. "Tetap mewaspadai sentimen yang dapat membuat IHSG kembali melemah," kata Reza.

Senada dengan Reza, ‎Analis Indosurya Bersinar Sekuritas William Suryawijaya melihat indeks berpeluang berbalik arah menguat. Hal itu lantaran kondisi pondasi ekonomi domestik masih cukup kuat. Kuatnya perekonomian masih terlihat mampu menopang kenaikan IHSG hingga beberapa waktu mendatang di tengah gejolak rupiah serta berfluktuasinya harga komoditas.

"Saat ini, IHSG memiliki support terdekat yang berupaya dipertahankan pada level 5.845, sedangkan target resisten terdekat yang berusaha ditembus ada pada posisi 6.123," tuturnya.

‎M‎engamati keadaan tersebut, William merekomendasikan kepada pelaku pasar untuk mencermati beberapa pergerakan saham seperti PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), ‎PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)‎, PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

‎‎Kemudian, cermati pula gerak saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) cenderung berkurang. Adanya keadaan itu diharapkan masih membuka peluang rupiah untuk kembali ke zona hijau sehingga rupiah bisa kembali lebih perkasa.

‎"Selain itu, diharapkan sentimen dari dinaikannya suku bunga acuan dapat direspons positif untuk membuka peluang  kenaikan rupiah," ujar Reza Priyambada,.

Selain itu, lanjut Reza, pergerakan USD di pasar valas global cenderung berbalik melemah setelah euro (EUR) menguat. "Penguatan EUR terjadi setelah adanya potensi dilakukannya refrendum dan koalisi partai untuk mengatasi kemelut politik di pemerintahan Italia," ucap dia.

Meski demikian, ia menilai, investor perlu tetap mencermati berbagai sentimen yang dapat menahan kenaikan lanjutan dari rupiah maupun sentimen yang dapat membuat rupiah kembali melemah. "Adapun rupiah diestimasikan akan bergerak di kisaran support Rp13.970 per USD, sedangkan posisi resisten akan berada di Rp13.988 per USD," terang dia.



(ABD)