BI: Rupiah Melempem Sejak 2013
Rupiah. MI/Susanto.
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyebut nilai tukar rupiah sudah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sejak 2013. Kenaikan suku bunga acuan AS dari 0,25 persen ke 2,5 persen menjadi penyebab utama mata uang Garuda kian melempem terhadap USD.

Kondisi tersebut kian buruk akibat perang dagang antara AS dengan Tiongkok. Kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, Negeri Tirai Bambu itu melakukan perlawanan dengan melemahkan nilai tukar renminbi sehingga kurs negara-negara lain terkena imbasnya.

"Hal-hal tersebut membuat portofolio investor yang tahun-tahun lalu itu masuk cukup besar ke Indonesia, tahun ini net-nya masih negatif USD1 miliar sampai semester satu," ujar Mirza di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 10 September 2018.

Untuk menahan pelemahan, pemerintah harus memperbaiki defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Pasalnya hingga semester I-2018, defisit transaksi berjalan RI sudah mencapai USD13,5 miliar atau 2,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Itu yang harus dikurangi karena defisit itu kan ditutupnya dari PMA (Penanaman Modal Asing) dan portofolio yang masuk. Jadi kalau portofolio yang masuk pada semester I-2018 ini net-nya itu masih defisit, masih outflow, berarti defisit ekspor impornya yang harus dikurangi," ungkap Mirza.

Pemerintah, jelas dia, juga sudah melakukan langkah-langkah dalam memperbaiki defisit transaksi berjalan. Di antaranya dengan mengeluarkan kebijakan implementasi pencampuran bahan bakar nabati sebanyak 20 persen (B20).

"Kebijakan itu diharapkan bisa mengurangi impor minyak. Karena neraca ekspor impor minyak kita kan juga defisit," bebernya.

Di sisi lain, otoritas juga melihat siklus kenaikan suku bunga acuan AS mereda di tahun depan. Kondisi tersebut diyakini membuat portofolio yang masuk ke Indonesia menjadi lebih baik.

"Intinya 2019 itu kenaikan suku bunga AS sudah setop. Kalau sudah setop, tekanan sentimen negatif dari kenaikan suku bunga AS juga di 2019 mudah-mudahan sudah hilang. Kami percaya CAD di 2019 bisa dijaga di bawah dua persen dari PDB," pungkas Mirza.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id