Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja (FOTO: dok MI).
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja (FOTO: dok MI).

Penantian Panjang Akuisisi Bank Royal oleh BCA

Ekonomi bca
Nia Deviyana • 26 April 2019 08:00
Jakarta: PT Bank Central Asia Tbk (BCA) bersama anak usaha PT BCA Finance mengakuisisi seratus persen saham PT Bank Royal Indonesia dengan nilai maksimum Rp1,007 triliun. Di balik harga yang terbilang tinggi itu, BCA punya cerita panjang sampai dilakukan penandatanganan jual beli saham pada 16 April 2019.
 
Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan aksi korporasi bermula dari seruan konsolidasi yang dilontarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator. Hal ini dimaksudkan agar bank memiliki permodalan yang kuat.
 
"Regulator merasa ada terlalu banyak bank sehingga perlu ada konsolidasi. Saat itu kita pikir gayung bersambut karena BCA kala itu ibarat kapal induk besar, dan bergeraknya agak susah," ujar Jahja usai memaparkan laporan kinerja perusahaan triwulan I-2019 di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis, 25 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jahja menuturkan rencana akuisisi pada saat itu memang diarahkan untuk mengembangkan digital bank kendati belum disebutkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB). Hal tersebut sebagai respons dari munculnya digital-digital bank di luar negeri seperti SoftBank, KakaoBank, dan Digibank.
 
Belum lagi, kehadiran financial technology (fintech) yang mengembangkan fiturnya ke ranah pembayaran (payment). "Dari situ kita merasakan bahwa penting sekali membuat suatu digital bank," imbuhnya.
 
Jahja mengungkap alasan dikembangkannya digital bank di luar BCA. Faktor utamanya, nasabah BCA terdiri dari berbagai usia. "Yang namanya digital itu cepat sekali berubahnya. Sementara range nasabah kita, baik yang milenial, middle age, dan yang senior sama banyaknya. Kalau setiap kali ada perubahan yang tua bisa bingung," jelasnya.
 
Proses akuisisi Bank Royal juga tidak mudah kendati bank tersebut tergolong kecil. Ditambah, BCA juga harus bersaing dengan banyak bank asing yang juga mengincar.
 
"Meski bank kecil, mereka (Bank Royal) masih pede. Karena apa? Di sisi lain begitu banyak bank asing yang siap ke Indonesia. Mereka melihat emerging country ekonomi berkembang begitu pesat, sehingga kesempatan besar kalau mau mengembangkan bank di Indonesia," paparnya.
 
Namun, sebut Jahja, BCA memiliki keunggulan dibandingkan bank-bank asing tersebut. Bank asing harus mengurus izin dan networking yang terkena ketentuan bundling, di mana jika ingin membuka cabang di satu kota harus buka juga di lokasi lain.
 
"Kalau kita (BCA) kan sudah punya (cabang). Karena enggak punya value added, makanya bank asing berani menenawar harga lebih dibandingkan kita," urainya.
 
Soal harga senilai Rp1 triliun, Jahja mengatakan angka tersebut bisa tergolong mahal atau murah menjadi sangat relatif. Sebab, begitu banyak bank asing yang menawar dengan harga tinggi.
 
"Mereka berani menawar tiga, empat, bahkan lima kali lebih tinggi. Jadi harga segitu menurut kami masih reasonable," jelasnya.
 
Kendati Bank Royal direncanakan menjadi sebuah digital bank, hingga saat ini tim IT BCA masih terus melakukan riset mengingat banyak digital bank tidak sukses. BCA mengatakan masih mencari fokus yang tepat agar Royal Bank dapat memberikan value added bagi perusahaan.
 
"Mungkin Digibank di India sukses, tetapi (Digibank) di sini susah juga. KakaoBank setahu saya masih merugi, walau secara grup ekosistemnya masih baik. SoftBank meski gemanya hebat, tapi profitabilitasnya relatif beda dengan gemanya," pungkas Jahja.
 
Hingga 2018, pertumbuhan kredit Bank Royal tercatat Rp566 miliar. Angka ini turun 1,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp574,54 miliar.
 
Untuk laba bersih, Bank Royal tercatat mencetak untung senilai Rp857 juta. Sementara, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) kotor Bank Royal sebesar 2,26 persen. Angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada level 5,62 persen.
 
Sedangkan rasio kecukupan modal, Bank Royal memiliki rasio sebesar 54,6 persen.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif