<i>Listing Fee</i>, PR Direksi Baru BEI
Ilustrasi. (FOTO: MI/Atet)
Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) segera memiliki nakhoda baru pada Jumat, 29 Juni 2018. Paket Inarno Djayadi terpilih menjadi direksi baru BEI periode 2018-2022 menggantikan paket direksi lama yang dipimpin Tito Sulistio.

Dalam paket Inarno, IGD N Yetna Setia terpilih sebagai direktur penilaian perusahaan. Direktur perdagangan dan pengaturan anggota bursa dijabat Laksono Widito Widodo.

Adapun direktur pengawasan transaksi dan kepatuhan dijabat Kristian Sihar Manullang, direktur teknologi informasi dan manajemen risiko dipegang Fithri Hadi, direktur pengembangan dijabat Hasan Fawzi, dan direktur keuangan dan SDM dijabat Risa Effenita Rustam.

Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) berharap jajaran dewan direksi BEI yang baru dapat mempertimbangkan lagi usulan-usulan lama yang diajukan asosiasi yang belum diakomodasi direksi sebelumnya.

"Yang belum diputuskan ialah usulan AEI agar rumus penghitungan biaya tahunan listing fee kembali ke rumus awal yaitu berdasarkan aset, bukan berdasarkan kapitalisasi pasar," ujar Direktur Eksekutif AEI Isakayoga.

Usulan telah disampaikan sejak tiga tahun lalu kepada jajaran direksi bursa sebab aturan listing fee yang masih berlaku kini dinilai cukup memberatkan emiten. Sayangnya, hingga usai masa bakti jajaran direksi yang lama, belum ada perubahan yang berarti pada peraturan tersebut.

Selain persoalan listing fee, hal lain yang diharapkan emiten sejak dahulu ialah strategi untuk meningkatkan likuiditas emiten. Saat ini masih banyak emiten yang menurutnya masuk kategori emiten tidur, yang sahamnya sangat jarang ditransaksikan sehingga cenderung tidak bergerak.

"Yang lainnya antara lain sinkronisasi sistem pelaporan elektronik dengan sistem yang sudah dikembangkan OJK. Kemudian program terobosan untuk peningkatan jumlah investor lokal dan jumlah emiten. Apabila memungkinkan, bursa membentuk pasar khusus bagi perusahaan menengah dan perusahaan baru," tukas Isakayoga.

Peningkatan Investor Ritel

Di sisi lain, AEI mengapresiasi direksi di bawah pimpinan Tito Sulistio yang berhasil menjalankan program unggulan Yuk Nabung Saham. Program itu telah membuat saham bisa dijangkau semua kalangan dan meningkatkan jumlah investor ritel di pasar modal dalam dua tahun terakhir.

Strategi peningkatan likuditas dan basis investor juga menjadi kunci untuk mendorong performa IHSG yang merupakan wajah dari pasar modal Indonesia.

Secara terpisah, Direktur Pengembangan BEI saat ini Nicky Hogan juga berharap jajaran direksi BEI yang baru dapat meneruskan dan meningkatkan program Yuk Nabung Saham yang telah diluncurkan sejak November 2015.

"Sejauh ini program Yuk Nabung Saham berjalan dengan cukup baik. Jumlah investor hingga Jumat pekan lalu sudah mencapai 710 ribu," ujar Nicky di Gedung BEI, Jakarta, Senin, 25 Juni 2018.

Dengan program Yuk Nabung Saham, BEI menggelar berbagai kegiatan di daerah, mempromosikan pasar modal kepada masyarakat luas, serta menambah galeri investasi di perguruan tinggi daerah. Tujuannya ialah meningkatkan jumlah investor baru dari kalangan generasi milenial. (Media Indonesia)

 



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id