IHSG Terkoreksi, Rupiah Berjaya
IHSG. Dok:MI.
Jakarta: Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan hari ini terkoreksi tipis. IHSG tak berhasil naik di tengah minimnya sentimen negatif dari luar dan dalam negeri.

IHSG, Senin, 19 November 2018 ditutup ke level 6.005 atau melemah tujuh poin. Volume dagang pada hari ini mencapai 5,6 miliar lembar saham dengan nilainya mencapai Rp5,2 triliun. Sebanyak 194 saham naik dan 209 saham turun.

Sektor keuangan dan properti berusaha menahan laju indeks, sementara sektor pertambangan dan infarastruktur malah anjlok terdalam. Sektor indeks unggulan seperti JII dan LQ45 memerah masing-masing sebesar enam poin dan 2,83 poin.

Sentimen dagang antara kedua negara adikuasa berusaha menekan IHSG. Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence menyatakan tidak akan gentar menghadapi sengketa dagang dengan Tiongkok, bahkan membuka kemungkinan untuk melipatgandakan tarif bea masuk bagi produk negara tersebut.  

Pernyataan Pence tersebut semakin meyakinkan pasar finansial bahwa perang dagang AS dengan Tiongkok tidak akan reda dengan mudah. Bahkan dengan adanya rencana pertemuan antara Trump dengan Xi Jinping di Konferensi G20.

Pemimpin Tiongkok Xi Jinping dan Wakil Presiden AS Mike Pence saling kecam dalam pidato di KTT APEC di Port Moresby, Papua New Guinea. AS melawan kebijakan perdagangan Tiongkok yang selalu memaksimalkan ekspor dan pencurian kekayaan intelektual.

PT Valbury Sekuritas Indonesia memperkirakan sentimen pasar yang terbilang variatif baik dari dalam dan luar negeri memberikan dampak bagi IHSG untuk bergerak mixed.

Di sisi lain Bloomberg mencatat mata uang rupiah naik 24 poin dengan berada pada Rp14.587 per USD. Kemudian Yahoo Finance melansir mata uang rupiah naik 23 poin dengan berada pada Rp14.585 per USD. Sementara Bank Indonesia melansir mata uang rupiah naik dengan berada pada Rp14.586 per USD.

Senior Analyst CSA Research Reza Priyambada memprediksi pergerakan nilai tukar rupiah hari ini akan berada pada kisaran Rp14.595 per USD sampai Rp14.615 per USD.

"Harapan akan berlanjutnya kenaikan rupiah dapat memenuhi pelaku pasar seiring dengan masih adanya sejumlah sentimen positif dari dalam negeri," dalam riset hariannya, Senin, 19 November 2018.

Di sisi lain dari sisi global, Reza menjelaskan penguatan mata uang Eropa (EUR) bisa menjadi katalis penguatan rupiah. Penguatan EUR bisa terjadi jika masalah keuangan Italia terpecahkan.

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id