Gerak Rupiah Terpengaruh Imbal Hasil Obligasi AS
Ilustrasi (MI/ROMMY PUJIANTO)
Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta masih sering melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Untungnya, Bank Indonesia (BI) terbilang sigap untuk melakukan intervensi di pasar agar rupiah tidak melemah lebih dalam.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Rully Nova mengatakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) yang berada di atas tiga persen masih menjadi sentimen negatif bagi kurs rupiah.

"Imbal hasil obligasi AS itu masih menjadi daya tarik investor di negara berkembang, sebagian investor cenderung memindahkan dananya sehingga membebani fluktuasi rupiah," ujarnya, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Rabu, 24 Oktober 2018.

Selain itu, lanjut dia, kuatnya peluang the Fed untuk menaikkan suku bunganya pada akhir tahun ini turut menjadi beban bagi mata uang rupiah. "Pelemahan juga terjadi pada mata uang negara tetangga karena sentimen the Fed itu," katanya.

Kendati demikian, tambah dia, Bank Indonesia yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate di 5,75 persen diharapkan dapat menurunkan defisit transaksi berjalan.

"Defisit transaksi berjalan merupakan salah satu faktor negatif bagi rupiah," pungkasnya.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id