Pasar Bergejolak, Sektor Komoditas Masih Menarik

Dian Ihsan Siregar 23 Mei 2018 23:17 WIB
komoditas
Pasar Bergejolak, Sektor Komoditas Masih Menarik
IHSG. (ANT/M Agung Rajasa)
Jakarta: Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terus berfluktuatif. Efek indeks yang bergejolak membuat pelaku pasar (investor) banyak menjalankan aksi jual khususnya investor asing yang telah melakukan net sell sekitar Rp40 triliun di sepanjang tahun ini.

Hal ini membuat investor sulit menebak sektor saham mana saja yang harus dipilih oleh pelaku pasar yang telah berinvestasi di bursa efek apalagi untuk investor yang baru menepakkan kakinya di pasar modal.

‎Menanggapi hal ini, Head of Research Ekuator Swarna Sekuritas David Sutyanto mengaku, investor yang ingin masuk ke pasar saham harus mengerti setiap sentimen yang telah membayangi pasar modal Indonesia. 

Dia mengatakan saham pilihan yang diharapkan bisa meraih pundi-pundi keuntungan banyak mengarah ke sektor-sektor yang berbasis komoditas. Lantaran, sektor komoditas saat ini sedang merajai di pasar global.

"Saham-saham komoditas, seperti sektor tambang. Tambang itu banyak batu bara, emas, timah dan lainnya. Itu yang bisa dipilih oleh pelaku pasar, seperti PT Vale Indonesia Tbk (VALE)," tutur David kepada Medcom.id, Rabu, 23 Mei 2018.

Untuk sektor konsumer‎ dan perbankan, David menyarankan, pelaku pasar harus menjauhi. Sebab, kedua sektor tersebut masih dibayangi oleh gejolak nilai tukar rupiah yang saat ini telah menembus posisi di atas Rp14.000 per USD. Dia mengatakan sektor konsumer maupun perbankan cenderung melemah selama nilai tukar masih anjlok. 

‎"Tunggu sentimen nilai tukar reda saja, yang sensitif dengan nilai tukar itu seperti perbankan, konsumer maupun yang berorientasi impor. Kalau sudah reda, maka bisa pilih itu," ungkap David.

Pada kesempatan terpisah, A‎nalis Senior PT Binaartha Parama Sekuritas, Reza Priyambada juga menyatakan, pada saat pasar sedang bergejolak, investor harus memilih saham-saham berkapitalisasi besar. 

 "Saham-saham aman itu seperti saham yang berkapitalisasi besar. Tapi harus memperhatikan juga momentum pasar," tegas dia.

‎Namun, investor juga harus memperhatikan momentum yang ada di pasar.  Dalam jangka pendek saham batu bara masih menarik untuk diperdagangkan ketimbang saham perbankan yang sedang tak menarik. 

"Waktu dulu banking lagi bagus, sekarang kalau mau masuk harus lihat-lihat dulu banking mana yang bagus. Untuk saham coal atau batu bara bisa juga untuk trading," pungkas Reza.‎



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id