Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Tidak Mudah bagi Startup untuk IPO

Ekonomi ipo startup
Nia Deviyana • 02 April 2019 23:46
Jakarta: Melantai di bursa saham atau melakukan Initial Public Offering (IPO) bukan hal yang mudah bagi sebuah perusahaan rintisan alias startup. Pasalnya, salah satu syarat perusahaan bisa melakukan IPO adalah adanya peningkatan profit dalam dua tahun terakhir.
 
"Untuk go public tidak mudah, karena akan dipertanyakan neraca, profit, dan prospektusnya. Walau mereka memiliki data, tetapi tidak bisa dilihat sebagai sektor riil," ujar Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Avilianisaat mengisi diskusi bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Atma Jaya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 2 April 2019.
 
Selain itu, tambah Aviliani, startup tidak terlalu mencari untung pada awal-awal berdiri. "Malah istilahnya cenderung bakar duit," tambahnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Aviliani melanjutkan, untuk bisa IPO, sebuahstartup tidak hanya harus memiliki permodalan yang kuat, tetapi juga harus memiliki ekosistem riil untuk menarik investor. Itu sebabnya, modal ventura masih menjadi opsi permodalan terbaik bagi startup.
 
Perusahaan rintisan memang sedang didorong untuk mengakses dana dari pasar modal Indonesia. Salah satu gerbang besar untuk memperoleh dana dari pasar modal, yakni menjalankan proses IPO.
 
Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat mengaku pihak bursa bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menyiapkan aturan khusus yang dapat menaungi para startup.
 
"Kita akan bikin aturan itu, dijajaki, dikaji, lisensi yang diberikan ke perusahaan ini dalam hal mereka manfaatkan dana publik," kata ‎Samsul.
 
Samsul mengaku perusahaan startup memang memiliki karakter yang berbeda dengan emiten di bursa.‎ Karena, startup memiliki risiko yang lebih besar bila dibanding perusahaan biasanya.‎
 
"Dengan teknologi, maka bisnis model akan terus berkembang keberlangsungan perusahaan. Unicorn misalnya, sekarang tahan lifecycle setahun, lalu dua tahun, kalau hilang, investor yang dirugikan. Makanya mitigasi investor itu harus," jelas dia.
 
Dia melanjutkan, ketika investor akan IPO, maka investor harus tahu berbagai risiko yang ada. Hal ini karena perusahaan startup bisa bangkrut kapan saja. Saat ini startup yang tercatat di BEI yaitu Kioson, MCash, dan NFC.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif