Pascakenaikan Suku Bunga, IHSG Diproyeksi Positif
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/M Adimaja)
ANALIS Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta menilai keputusan Bank Indonesia (BI) yang baru menaikkan suku bunga acuan (BI 7-day repo rate) sebesar 25 bps untuk kedua kalinya tahun ini bisa membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali positif pada pekan ini.

Hal itu, kata Nafan, didukung indikator Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI) yang menyebutkan pelaku pasar sudah mulai jenuh jual. Artinya, aksi beli dari pelaku pasar bisa mendongkrak IHSG.

"Data makroekonomi domestik (juga) akan menopang pertumbuhan indeks pada pekan depan, data inflasi, data indeks keyakinan konsumen, data penjualan ritel, data cadangan devisa, semua data diproyeksikan lebih positif diharapkan bisa menopang pertumbuhan indeks," jelas Nafan kepada Media Indonesia, Minggu, 3 Juni 2018.

Terlebih, kata Nafan, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp13.896 per USD pada akhir perdagangan Kamis, 31 Mei 2018. Posisi itu menguat 97 poin atau 0,69 persen ketimbang sesi penutupan Rabu, 30 Mei 2018.

"Perkembangan rupiah juga cenderung stabil memang diharapkan menopang pertumbuhan indeks. Secara umum kondisi fundamen makroekonomi domestik cenderung stabil sehingga diharapkan indeks masih bisa terus mengalami capital inflow menjelang liburan Lebaran pada 11 Juni," jelasnya.




Tidak Agresif

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio menyampaikan keputusan kenaikan suku bunga acuan BI sebaiknya tidak diiringi dengan kenaikan suku bunga perbankan yang terlalu agresif.

"Apa pun, musuh terbesar pada pasar modal ialah bunga. Jika dilihat secara total memang melihat gejolak ekonomi dunia, sangat wajar BI menaikkan suku bunga. Namun, kalau melihat dari pasar modal, sebisa mungkin bunga serendah mungkin," ungkap Tito di Gedung BEI, Jakarta, Kamis, 31 Mei 2018.

Kenaikan suku bunga acuan, menurut Tito, sebagian besar sudah terprediksi mengingat tekanan global sebab bila tidak ada kenaikan suku bunga acuan, aliran modal asing yang keluar dikhawatirkan semakin besar karena nilai tukar rupiah yang melemah.

Sebelumnya, BI kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen pada rapat dewan gubernur tambahan, Rabu, 30 Mei 2018, guna mengantisipasi risiko eksternal terutama kenaikan suku bunga acuan kedua The Federal Reserve pada 13 Juni 2018.

Director of Asia & Pacific Department Dana Moneter Internasional (IMF) Changyong Rhee mengatakan keputusan BI merupakan keputusan tepat. "Ini respons dalam menjaga kemungkinan kenaikan inflasi inti dari penguatan dolar AS, suku bunga acuan di tingkat global, dan harga minyak dunia," kata Changyong seperti dikutip dari Antara. (Media Indonesia)

 



(AHL)