Rupiah Pagi Terlibas Dolar AS
Ilustrasi (MI/SUSANTO)
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu pagi terlihat tertekan dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp14.291 per USD. Rupiah belum mampu menguat meski USD tumbang akibat adanya kekhawatiran ekonomi Amerika Serikat mengalami perlambatan.

Mengutip Bloomberg, Rabu, 5 Desember 2018, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka melemah ke Rp14.364 per USD. Day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.362 hingga Rp14.365 per USD dengan year to date return di 5,98 persen. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.151 per USD.

Sementara itu,  indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,07 persen menjadi 96,9680 pada pukul 20.00 GMT (pukul 15.00 waktu setempat). Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1341 dari USD1,1342 di sesi sebelumnya.

Sedangkan pound Inggris turun menjadi USD1,2717 dari USD1,2726 di sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,7337 dari USD0,7348. USD dibeli 112,81 yen Jepang, lebih rendah dari 113,68 yen Jepang pada sesi sebelumnya. USD turun menjadi 0,9974 franc Swiss dari 0,9988 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3247 dolar Kanada dari 1,3210 dolar Kanada.



Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average turun 799,36 poin atau 3,10 persen, menjadi ditutup di 25.027,07 poin. Indeks S&P 500 turun 90,31 poin atau 3,24 persen, menjadi berakhir di 2.700,06 poin dan Indeks Komposit Nasdaq ditutup 283,09 poin atau 3,80 persen lebih rendah, menjadi 7.158,43 poin.

Imbal hasil surat utang AS bertenor tiga tahun mencapai 2,805 persen, lebih tinggi dari imbal hasil surat utang AS bertenor lima tahun pada Selasa 4 Desember. Kurva imbal hasil terbalik menarik perhatian investor karena statistik historis menunjukkan ketika imbal hasil jangka pendek diperdagangkan di atas suku bunga jangka panjang, resesi dapat terjadi.

Kekhawatiran akan kemungkinan perlambatan ekonomi juga dipicu oleh panduan kuartalan yang lebih lemah dari perkiraan dari perusahaan pengembang perumahan Toll Brothers. Toll Brothers melaporkan penurunan pertama pesanan kuartalan dalam lebih dari empat tahun, terpukul oleh meningkatnya suku bunga dan harga rumah yang lebih tinggi.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id