Rupiah Menguat karena Empat Faktor Ini
Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan. Medcom/Desi A.
Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah dalam sepekan terakhir terus menguat. Mata uang Garuda berhasil menguat atas dolar Amerika Serikat hingga di level Rp14.500 per USD.

Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan menyebut ada lima faktor eskternal dibalik penguatan kurs Rupiah. Pertama, Indeks Dolar AS melemah akibat kemungkinan kesepakatan Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Jika dolar melemah maka rupiah akan melambung tinggi.

Faktor kedua, AS memberi kelonggaran impor minyak kepada Iran. Artinya, sejumlah negara mendapatkan izin keringanan sanksi untuk tetap bisa mengimpor minyak dari Iran. Keputusan tersebut memberikan dampak positif tidak langsung terhadap Rupiah.

"Kombinasi beberapa hal, awalnya faktor eksternal. Kalau kita perhatikan di AS, indeks dari dolar itu cenderung melemah. Kemudian terkait Iran yang pembatasan impor oilnya diberi kelonggaran," kata Anton saat ditemui di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Kamis 8 November 2018.

Selanjutnya, sentimen investor di global market mulai berubah dari risk of menjadi risk on. Dengan kata lain, invetor mulai berani masuk ke equity market maupun bond market di Indonesia lantaran dinilai relatif aman dan memiliki return yang tinggi. Misalnya, permintaan investor asing terhadap PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dalam mengakuisisi PT Freeport Indonesia.

Permintaaan tinggi tersebut  membuat arus modal kembali masuk ke pasar obligasi maupun saham. Tercatat, arus modal asing beli bersih (net buy) Rp1,3 triliun di pasar saham, sedangkan arus modal asing di pasar obligasi mencapai Rp5,86 triliun.

"Instrumen-instrumen banyak yang tersedia, contoh kasus Inalum bukan main permintaannya, relatif tinggi dibandingkan dengan yang ada di global," imbuh dia.

Terakhir,  penguatan nilai tukar rupiah tak terlepas dari euforia kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif di Amerika Serikat (AS). Kemenangan tersebut membuat pasar berspekulasi bahwa dominasi partai Republik yang saat ini menentukan arah pengelolaan fiskal AS menjadi berkurang.

"Akan bisa memperlambat beberapa kebijakan Trump teruma di fiskal yang diharapkan bisa memperbaiki mungkin growth-nya jangan terlalu cepat atau Fed  tidak semakin hawkish," pungkas dia.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id