Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Bursa Panggil Garuda Indonesia

Ekonomi garuda indonesia bei
Annisa ayu artanti • 26 April 2019 11:58
Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) memanggil petinggi PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) untuk menjelaskan mengenai laporan keuangan tahun buku 2018. Khususnya, mengenai transaksi pendapatan perusahaan.
 
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan bursa telah mempelajari laporan keuangan Garuda Indonesia di 2018. Tahun lalu, Garuda Indonesia mencatat laba bersih USD809,85 ribu. Laba tersebut akhirnya terbentuk karena meningkatnya pendapatan usaha lainnya yang mencapai USD306,88 juta.
 
Namun diberitakan, pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dua komisaris maskapai pelat merah tersebut keberatan atas pengakuan laporan keuangan tersebut.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam laporan keuangan Garuda Indonesia, terdapat pengakuan pendapatan atas transaksi Perjanjian Kerja Sama Penyediaan Layanan Konektivitas Dalam Penerbangan, antara PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia. Menurut mereka, pengakuan tersebut tidak sesuai dengan kaidah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) nomor 23.
 
Baca juga: Dua Komisaris Ragukan Laporan Keuangan Garuda
 
"Untuk memperjelas nature transaksi atas pendapatan tersebut, Bursa akan mengadakan hearing pada Selasa, 30 April," kata Nyoman kepada wartawan, Kamis malam, 25 April 2019.
 
Bursa, kata Nyoman, telah berkordinasi dengan perusahaan untuk menjelaskan secara tertulis dan lisan mengenai keuangan perusahaan.
 
"Bursa telah meminta penjelasan dari Perseroan secara tertulis, meminta penjelasan secara lisan dengan berkoordinasi dengan tim Perseroan," pungkas dia.
 
Seperti diketahui, manajemen dan pemegang saham tertinggi Garuda Indonesia mengakui pendapatan dari PT Mahata Aero Teknologi sebesar USD239,9 juta, dimana sebanyak USD28 juta merupakan bagi hasil yang didapatkan dari Sriwijaya Air. Padahal, uang itu masih dalam bentuk piutang.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif