Ilustrasi (MI/SUSANTO)
Ilustrasi (MI/SUSANTO)

Rupiah Pagi Terlibas Dolar AS

Ekonomi kurs rupiah
Angga Bratadharma • 24 April 2019 09:02
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu pagi terpantau melemah dibandingkan perdagangan sebelumnya di posisi Rp14.080 per USD. Rupiah tidak mampu meredam keperkasaan mata uang Paman Sam meski arus modal asing masih deras masuk ke Tanah Air.
 
Mengutip Bloomberg, Rabu, 24 April 2019, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka tertekan ke Rp14.091 per USD. Pagi ini, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.091 hingga Rp14.094 per USD. Sementara itu, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.896 per USD.
 
Sementara itu, kurs USD menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), ketika pasar-pasar keuangan dibuka kembali setelah liburan Paskah. Para pedagang lebih menyukai greenback menjelang rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk tiga bulan pertama 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,34 persen menjadi 97,622, tertinggi sejak Juni 2017. Euro berada 0,33 persen lebih rendah pada USD1,1218 setelah sempat tergelincir di bawah USD1,12 untuk pertama kalinya dalam hampir tiga minggu.
 
USD didukung oleh data pada Selasa 23 April yang menunjukkan penjualan rumah keluarga tunggal baru di AS melonjak mendekati level tertinggi 1,5 tahun pada Maret. Data mengikuti berita positif baru-baru ini tentang penjualan ritel dan ekspor, yang telah meredakan kekhawatiran perlambatan tajam ekonomi AS, kata para analis.
 
"Hari ini tentu saja merupakan hari dolar yang baik. Dolar datang dengan kekuatan penuh dan kami telah melihat sedikit tren yang lebih rendah pada euro secara keseluruhan," kata Minh Trang, pedagang mata uang senior di Silicon Valley Bank di Santa Clara, California.
 
Data PDB AS pada Jumat, 26 April untuk kuartal pertama dapat memperkuat kasus bahwa sementara periode ekspansi global saat ini berada pada tahap akhir, Amerika Serikat berada di posisi yang lebih baik daripada ekonomi terkemuka lainnya.
 
"Tidak ada banyak fundamental yang mendukung dolar, lebih dari itu ada banyak kekhawatiran tentang seluruh dunia," kata Alfonso Esparza, ahli strategi mata uang di OANDA di Toronto.
 
"Kenaikan harga minyak minggu ini di tengah berita rencana AS untuk memperketat ekspor minyak Iran mulai bulan depan juga positif untuk dolar," kata Trang dari Silicon Valley Bank.
 
"Jika kita melihat tindak lanjut dari harga minyak yang lebih tinggi hingga inflasi yang sedikit lebih tinggi, saya pikir Anda akan melihat Fed berada dalam posisi yang lebih stabil dengan mempertahankan suku bunga dan menghilangkan segala jenis pembicaraan tentang penurunan suku bunga," tambah Trang.

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif